Kenali 4 Attachment Style dalam Hubungan, Kamu Termasuk yang Mana?

2.158 dilihat
Kaindra Akhdan A.
Ditulis oleh
Kaindra Akhdan A.
Kenali 4 Attachment Style dalam Hubungan, Kamu Termasuk yang Mana?

Pernah nggak kamu merasa sangat membutuhkan kepastian dari seseorang, sementara orang lain justru merasa lebih nyaman ketika diberi ruang? Atau mungkin kamu tipe orang yang santai ketika menjalani hubungan dan nggak terlalu khawatir akan ditinggalkan?

Setiap orang ternyata bisa memiliki cara yang berbeda dalam membangun kedekatan emosional. Dalam psikologi, pola tersebut salah satunya dikenal sebagai attachment style atau gaya kelekatan.

Konsep ini pertama kali dikembangkan oleh psikolog John Bowlby dan kemudian diperluas melalui penelitian Mary Ainsworth. Teori ini menjelaskan bagaimana pengalaman hubungan dengan pengasuh utama pada masa awal kehidupan dapat berkaitan dengan cara seseorang membangun hubungan dan mencari rasa aman ketika tumbuh dewasa.

Secara umum, terdapat empat attachment style yang sering dibahas, yaitu secure, anxious-preoccupied, dismissive-avoidant, dan fearful-avoidant atau disorganized.

1. Secure Attachment

Orang dengan secure attachment umumnya merasa nyaman dengan kedekatan emosional, tetapi tetap bisa mempertahankan kemandirian mereka.

Mereka cenderung mampu mempercayai pasangan, menyampaikan kebutuhan emosional, dan menghadapi konflik tanpa langsung menganggap hubungan tersebut akan berakhir.

Misalnya, ketika terjadi masalah, mereka lebih mungkin membicarakannya secara terbuka daripada langsung menghindar atau terus-menerus mencari kepastian.

Bukan berarti orang dengan secure attachment tidak pernah merasa cemburu, takut, atau kecewa. Mereka tetap bisa merasakan emosi tersebut. Perbedaannya terletak pada bagaimana mereka merespons dan mengelolanya.

2. Anxious-Preoccupied Attachment

Berbeda dengan secure attachment, orang dengan anxious-preoccupied attachment cenderung lebih membutuhkan kepastian dalam hubungan.

Mereka dapat memiliki kekhawatiran yang kuat mengenai kemungkinan ditolak atau ditinggalkan. Perubahan kecil dalam sikap pasangan pun terkadang bisa membuat mereka bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang salah.

Contohnya, ketika pesan dari pasangan belum dibalas, mereka mungkin mulai memikirkan berbagai kemungkinan. Apakah pasangannya sedang marah? Apakah sudah tidak tertarik? Apakah ada sesuatu yang berubah?

Kebutuhan akan validasi juga bisa muncul dalam bentuk sering mencari kepastian mengenai perasaan pasangan.

Namun, memiliki attachment style ini tidak berarti seseorang pasti akan selalu overthinking atau bergantung pada pasangannya. Pola tersebut bisa berbeda pada setiap orang dan dapat berubah seiring pengalaman.

3. Dismissive-Avoidant Attachment

Selanjutnya ada dismissive-avoidant attachment. Orang dengan pola ini cenderung sangat menghargai kemandirian dan dapat merasa kurang nyaman ketika hubungan menjadi terlalu dekat secara emosional.

Mereka mungkin kesulitan membuka diri, membicarakan perasaan, atau meminta bantuan ketika sedang menghadapi masalah.

Ketika hubungan mulai terasa semakin serius, sebagian orang dengan pola ini dapat merespons dengan menarik diri atau menciptakan jarak.

Dari luar, perilaku tersebut mungkin terlihat seperti tidak peduli. Padahal, pola avoidant lebih berkaitan dengan cara seseorang menghadapi kedekatan dan kerentanan emosional.

Karena itu, perilaku seperti menjaga jarak tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki perasaan kepada pasangannya.

4. Fearful-Avoidant atau Disorganized Attachment

Fearful-avoidant, yang juga sering disebut disorganized attachment, memiliki pola yang cukup kompleks karena terdapat keinginan untuk dekat sekaligus rasa takut terhadap kedekatan tersebut.

Seseorang mungkin sangat menginginkan hubungan yang dekat, tetapi ketika hubungan tersebut mulai terasa semakin intim, muncul rasa takut akan disakiti atau ditolak.

Akibatnya, respons mereka bisa terlihat kontradiktif. Mereka dapat mendekati seseorang, kemudian menarik diri ketika mulai merasa terlalu dekat.

Pola ini dapat membuat hubungan terasa naik turun karena seseorang menghadapi dua kebutuhan sekaligus: ingin mendapatkan kedekatan emosional, tetapi juga ingin melindungi dirinya dari kemungkinan terluka.

Bagaimana Attachment Style Memengaruhi Hubungan?

Attachment style dapat berkaitan dengan bagaimana seseorang berkomunikasi, menghadapi konflik, mencari rasa aman, dan merespons kedekatan maupun jarak dalam hubungan.

Misalnya, seseorang dengan kecenderungan anxious mungkin semakin membutuhkan kepastian ketika merasa pasangannya menjauh. Sementara itu, seseorang dengan kecenderungan avoidant justru dapat semakin membutuhkan ruang ketika merasa hubungan terlalu menuntut kedekatan.

Perbedaan tersebut kemudian bisa menciptakan kesalahpahaman.

Satu orang mungkin berpikir, "Kenapa dia menjauh ketika aku sedang membutuhkan kepastian?"

Sementara orang lainnya mungkin berpikir, "Kenapa aku merasa semakin tertekan ketika dia terus meminta kepastian?"

Inilah salah satu alasan mengapa memahami pola kelekatan dapat membantu seseorang melihat bahwa respons dalam hubungan tidak selalu sesederhana "peduli" atau "tidak peduli".

Apakah Attachment Style Bisa Berubah?

Kabar baiknya, attachment style bukanlah sesuatu yang harus menetap selamanya.

Pengalaman hidup, hubungan yang sehat, serta proses memahami diri sendiri dapat membantu seseorang mengembangkan pola kelekatan yang lebih aman. Dalam psikologi, kondisi ketika seseorang mengembangkan rasa aman meskipun sebelumnya memiliki pola kelekatan yang tidak aman sering disebut earned security.

Beberapa hal yang dapat membantu antara lain:

1. Meningkatkan self-awareness

Mulailah mengenali pola diri sendiri. Apa yang biasanya membuatmu merasa takut ditinggalkan? Kapan kamu cenderung menarik diri? Dengan memahami pemicunya, seseorang dapat mulai melihat pola yang selama ini berjalan secara otomatis.

2. Belajar berkomunikasi

Daripada langsung menyimpulkan sesuatu atau menarik diri, kebutuhan emosional dapat disampaikan dengan lebih jelas kepada pasangan.

3. Membangun hubungan yang sehat

Pengalaman berada dalam hubungan yang aman dan suportif dapat membantu seseorang belajar bahwa kedekatan tidak selalu berarti kehilangan kebebasan atau terluka.

4. Mempertimbangkan bantuan profesional

Jika pola hubungan berkaitan dengan pengalaman masa lalu yang berat dan sulit dihadapi sendiri, psikolog dapat membantu seseorang memahami serta mengolah pengalaman tersebut dengan cara yang lebih aman.

Jadi, Kamu Termasuk yang Mana?

Mengenali attachment style bukan berarti memberi label permanen pada diri sendiri.

Seseorang bisa menunjukkan kecenderungan tertentu dalam satu hubungan, tetapi merespons secara berbeda dalam situasi atau hubungan lainnya. Karena itu, attachment style lebih tepat dipandang sebagai pola yang dapat dipahami dan dikembangkan, bukan sebagai kotak yang harus menentukan siapa diri kita.

Dengan mengenali pola tersebut, kita bisa menjadi lebih sadar terhadap cara kita mencari kedekatan, menghadapi konflik, dan memberikan rasa aman dalam sebuah hubungan.

Jadi, setelah mengenal keempat attachment style di atas, apakah kamu mulai menemukan pola tertentu dalam caramu menjalin hubungan?