Mengapa Netizen Suka Konten Drama? Sisi Psikologis di Balik Netizen Julid

Dunia maya hari ini hampir tidak pernah sepi dari keributan. Setiap hari, ada saja topik hangat yang memicu perdebatan, mulai dari konflik antar-influencer, kehidupan pribadi selebritas yang terbongkar, hingga perselisihan antar-orang biasa yang mendadak viral. Fenomena ini melahirkan satu kelompok masyarakat digital yang sangat aktif: netizen julid.
Mengapa kita begitu mudah terpaku pada layar gawai saat ada drama media sosial? Mengapa konten yang berisi konflik, gosip, dan Paparan aib justru mendapatkan engagement yang jauh lebih tinggi daripada konten edukasi atau prestasi?
Jawaban atas fenomena ini tidak sekadar terletak pada algoritma media sosial yang haus interaksi, melainkan jauh di dalam lubuk psikologi manusia. Mari kita bedah sisi psikologis di balik mengapa netizen sangat menyukai konten drama dan mengapa perilaku julid seolah menjadi candu di era digital.
1. Kebutuhan Alami Manusia akan Gosip (Gossip sebagai Alat Evolusi)
Banyak orang menganggap gosip atau tindakan julid sebagai kebiasaan buruk yang tidak berguna. Namun, dari sudut pandang psikologi evolusioner, gosip adalah salah satu alat bertahan hidup tertua yang dimiliki manusia.
Sebelum era internet, nenek moyang kita hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Untuk bertahan hidup, mereka perlu tahu siapa yang bisa dipercaya, siapa yang berbohong, dan siapa yang melanggar aturan kelompok. Gosip berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial guna menyaring informasi penting tersebut.
Di era digital, media sosial menjadi "desa global" yang sangat besar. Ketika netizen berkumpul di kolom komentar untuk membahas drama seorang publik figur, mereka sebenarnya sedang menjalankan insting purba tersebut. Mengetahui "aib" atau kesalahan orang lain memberikan rasa aman secara sosial, karena individu tersebut merasa tahu mana batasan perilaku yang diterima atau ditolak oleh komunitasnya.
2. Schadenfreude: Kebahagiaan di Atas Penderitaan Orang Lain
Salah satu konsep psikologi yang paling akurat untuk menjelaskan fenomena netizen julid adalah schadenfreude. Istilah ilmiah yang berasal dari bahasa Jerman ini merujuk pada perasaan senang, puas, atau lega yang muncul saat melihat orang lain mengalami kemalangan atau kegagalan.
Mengapa schadenfreude bisa terjadi? Manusia adalah makhluk yang selalu melakukan perbandingan sosial (social comparison). Ketika kita melihat seseorang yang tampak lebih sukses, lebih kaya, atau lebih sempurna mengalami kejatuhan akibat sebuah drama, ada bagian dari diri kita yang merasa "menang."
Sensasi ini memberikan lonjakan hormon dopamin—hormon yang mengatur rasa senang di otak. Netizen menikmati drama bukan karena mereka jahat secara absolut, melainkan karena kejatuhan target drama tersebut secara tidak langsung membuat hidup netizen yang biasa-biasa saja terasa lebih baik.
3. Validasi Diri dan Efek Moral Superiority
Saat ada sebuah drama di media sosial, kolom komentar akan langsung dipenuhi oleh ribuan penghakiman moral. Netizen dengan cepat memosisikan diri sebagai hakim yang menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar. Fenomena ini disebut sebagai moral superiority (superioritas moral).
Ikut serta dalam menghujat atau mengkritik pelaku drama memberikan netizen sebuah ilusi validasi diri. Dengan mengatakan "Perilaku orang itu sangat tidak etis," netizen secara implisit sedang meyakinkan diri sendiri dan dunia bahwa "Saya adalah orang yang baik dan bermoral, tidak seperti dia."
Ini adalah cara yang instan dan murah untuk mendongkrak harga diri (self-esteem). Tanpa perlu melakukan pencapaian besar di dunia nyata, seseorang bisa merasa menjadi pahlawan kebenaran hanya dengan mengetikkan kalimat-kalimat pedas di balik layar ponsel mereka.
4. Katarsis Emosional dan Pelarian dari Realitas
Kehidupan di dunia nyata sering kali penuh dengan tekanan, kebosanan, dan masalah yang rumit untuk diselesaikan. Dalam kondisi stres seperti ini, manusia membutuhkan katarsis—sebuah penyaluran emosi yang terpendam.
Konten drama menyajikan narasi yang sangat memikat karena formatnya mirip dengan sinetron atau film, namun terjadi secara nyata. Mengikuti drama media sosial memberikan pengalihan isu (escapism) yang sempurna dari stres kerjaan, tugas kuliah, atau masalah finansial.
Lebih dari itu, meluapkan kemarahan, kekesalan, atau sinisme kepada sosok di dalam drama terasa jauh lebih aman daripada meluapkannya kepada bos di kantor atau anggota keluarga di rumah. Akibatnya, akun-akun gosip dan konten drama menjadi wadah pembuangan sampah emosional massal bagi para netizen.
5. Efek Komunitas dan Online Disinhibition Effect
Mengapa orang-orang yang di dunia nyata tampak santun, pendiam, dan ramah bisa berubah menjadi sangat kejam dan julid di kolom komentar? Psikologi menyebutnya sebagai Online Disinhibition Effect (Efek Disinhibisi Online).
Ketika berada di internet, pembatasan psikologis yang biasanya menahan kita untuk tidak berkata kasar di dunia nyata mendadak luntur. Faktor utamanya adalah:
Anonimitas: Netizen merasa identitas aslinya tersembunyi di balik foto profil palsu atau nama pengguna yang disamarkan.
Jarak Fisik: Netizen tidak melihat langsung ekspresi wajah atau air mata dari orang yang mereka hujat, sehingga rasa empati berkurang drastis.
Selain itu, ada rasa memiliki kelompok (sense of belonging). Ketika ribuan netizen bersatu untuk merujak satu target yang sama, muncul rasa solidaritas kelompok yang semu. Mereka merasa sedang berjuang bersama dalam sebuah "misi penting", yang membuat tindakan julid tersebut terasa makin valid dan menyenangkan.