Mengenal Fenomena Doomscrolling Berita Buruk: Mengapa Otak Manusia Lebih Tertarik pada Konten Negatif

Pernahkah Anda membuka media sosial sebelum tidur dengan niat hanya memeriksa lini masa selama lima menit, namun berakhir terjebak selama berjam-jam membaca berita tentang bencana alam, krisis ekonomi, atau konflik politik? Jika iya, Anda tidak sendirian. Aktivitas menggulirkan layar ponsel tanpa henti demi mengonsumsi berita buruk ini dikenal dengan istilah doomscrolling.
Fenomena ini kian marak di era digital, di mana informasi mengalir tanpa henti selama 24 jam sehari. Namun, mengapa kita begitu sulit melepaskan pandangan dari konten yang justru membuat kita cemas, takut, dan sedih? Mengapa otak manusia seolah memiliki magnet kuat terhadap hal-hal negatif?
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai apa itu doomscrolling, alasan psikologis dan biologis di baliknya, serta cara sehat untuk menghentikannya.
Apa Itu Doomscrolling?
Istilah doomscrolling (atau kadang disebut doomsliding) mulai populer secara global sejak pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Secara harfiah, kata ini menggabungkan doom (malapetaka/kehancuran) dan scrolling (menggulirkan layar). Fenomena ini merujuk pada kecenderungan obsesif seseorang untuk terus mencari dan membaca berita buruk di internet, meskipun informasi tersebut memicu perasaan cemas, depresi, atau keputusasaan.
Ironisnya, doomscrolling sering kali dimulai dengan niat yang baik, yaitu keinginan untuk tetap mendapatkan informasi terkini (stay informed) agar merasa aman dan siap menghadapi situasi. Namun, karena algoritma media sosial didesain untuk terus menyajikan konten serupa, pencarian informasi ini berubah menjadi siklus adiktif yang merugikan kesehatan mental.
Mengapa Otak Manusia Menyukai Konten Negatif?
Untuk memahami mengapa kita sulit berhenti melakukan doomscrolling, kita harus melihat bagaimana otak manusia berevolusi. Kelekatan kita pada berita buruk bukanlah tanda bahwa kita aneh, melainkan hasil dari mekanisme pertahanan diri yang sudah tertanam sejak zaman purba.
1. Bias Negativitas (Negativity Bias)
Secara psikologis, manusia memiliki apa yang disebut sebagai negativity bias atau bias negativitas. Ini adalah kecenderungan otak untuk memberikan perhatian yang lebih besar, mengingat lebih lama, dan bereaksi lebih kuat terhadap informasi negatif dibandingkan informasi positif.
Bagi nenek moyang kita ribuan tahun lalu, kemampuan mendeteksi ancaman (seperti predator atau cuaca buruk) jauh lebih penting demi bertahan hidup daripada menikmati hal-hal yang menyenangkan. Mengabaikan buah yang manis tidak akan membunuh mereka, tetapi mengabaikan suara harimau di balik semak-semak bisa berakibat fatal. Otak kita saat ini masih membawa sistem operasi purba tersebut. Kita secara otomatis menganggap berita buruk sebagai "ancaman" yang harus dipantau demi keselamatan diri.
2. Peran Amigdala dan Hormon Stres
Ketika Anda membaca berita utama yang mengerikan, bagian otak yang bernama amigdala—pusat pemrosesan emosi dan ancaman—akan langsung aktif. Amigdala memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin untuk mempersiapkan tubuh dalam mode lawan atau lari (fight or flight).
Masalahnya, saat membaca ponsel, tidak ada ancaman fisik yang bisa kita lawan atau hindari. Akibatnya, energi stres tersebut tertahan di dalam tubuh. Otak yang cemas kemudian menafsirkan bahwa kita membutuhkan "lebih banyak informasi" untuk memecahkan masalah tersebut, yang akhirnya mendorong kita untuk terus menggulirkan layar mencari kejelasan.
3. Ilusi Kendali (Illusion of Control)
Manusia sangat membenci ketidakpastian. Ketika dunia sedang dalam kondisi tidak stabil, kita merasa kehilangan kendali atas hidup kita. Doomscrolling menjadi cara bawah sadar kita untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Otak kita berpikir, "Jika aku tahu segalanya tentang bahaya ini, aku bisa mempersiapkan diri dan mengendalikannya." Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya; semakin banyak berita buruk yang dibaca, kita semakin merasa tidak berdaya.
4. Algoritma Media Sosial yang Memanfaatkan Celah Ini
Platform media sosial seperti X (Twitter), Instagram, TikTok, dan Facebook dirancang dengan algoritma yang bertujuan menjaga pengguna tetap berada di aplikasi selama mungkin. Karena pembuat platform tahu bahwa konten negatif dan kontroversial memicu keterlibatan (engagement) yang tinggi berupa komentar dan bagikan, algoritma akan terus menyuapi Anda dengan konten sejenis. Ini menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.
Dampak Buruk Doomscrolling bagi Kesehatan
Meskipun dilakukan secara pasif sambil berbaring di tempat tidur, doomscrolling memiliki dampak nyata yang merusak kesejahteraan fisik dan mental kita.
Gangguan Kecemasan dan Depresi: Terus-menerus terpapar narasi tentang dunia yang hancur dapat mengikis rasa aman dan memicu gangguan kecemasan kronis hingga depresi.
Insomnia dan Penurunan Kualitas Tidur: Paparan blue light dari ponsel dikombinasikan dengan lonjakan kortisol akibat berita buruk di malam hari akan mengganggu siklus tidur alami tubuh.
Kelelahan Mental (Compassion Fatigue): Terlalu sering melihat penderitaan orang lain melalui layar dapat membuat empati kita mati rasa atau sebaliknya, membuat kita merasa sangat lelah secara emosional.
Gejala Fisik Akibat Stres: Stres kronis dari doomscrolling dapat bermanifestasi menjadi gejala fisik seperti sakit kepala, ketegangan otot, gangguan pencernahan, hingga peningkatan tekanan darah.
Cara Mengatasi dan Memutus Siklus Doomscrolling
Mengubah kebiasaan yang sudah memanfaatkan mekanisme biologis otak memang tidak mudah, tetapi sangat bisa dilakukan. Berikut adalah langkah praktis untuk membebaskan diri dari jeratan doomscrolling:
1. Batasi Waktu Penggunaan Gawai (Screen Time)
Manfaatkan fitur pembatas aplikasi yang ada di ponsel pintar Anda. Tetapkan batas waktu yang ketat, misalnya maksimal 15 menit di pagi hari dan 15 menit di sore hari untuk membaca berita.
2. Terapkan "Jam Malam" Tanpa Ponsel
Jauhkan ponsel dari tempat tidur setidaknya 1 jam sebelum tidur. Gantilah aktivitas menggulirkan layar dengan membaca buku fisik, menulis jurnal, mendengarkan musik yang tenang, atau meditasi untuk membantu menurunkan kadar kortisol sebelum tidur.
3. Kurasi Sumber Informasi Anda
Lakukan pembersihan massal (unfollow) pada akun-akun media sosial yang sering membagikan konten provokatif, sensasional, atau toxic. Ikuti akun-akun yang menyajikan berita berbasis solusi, sains, hobi, atau konten humor yang menyegarkan pikiran.
4. Praktikkan Kesadaran Penuh (Mindfulness)
Saat Anda menyadari tangan Anda mulai menggulirkan layar secara otomatis, berhentilah sejenak. Ambil napas dalam-dalam dan tanyakan pada diri sendiri: "Apa yang aku rasakan saat ini? Apakah informasi ini benar-benar kubutuhkan sekarang?" Kesadaran ini membantu mengembalikan kendali dari mode otomatis otak purba Anda.
5. Cari Penyeimbang dengan "Joyscrolling"
Dunia memang tidak selalu baik-baik saja, tetapi bukan berarti tidak ada hal indah yang terjadi. Sengajalah mencari berita positif, kisah inspiratif, atau perkembangan teknologi yang membawa dampak baik bagi kemanusiaan untuk mengingatkan otak Anda bahwa dunia masih memiliki banyak harapan.