KEDAI KOPI PENGHENTI WAKTU #1

35.065 dilihat
K
Ditulis oleh
Kuwi In
KEDAI KOPI PENGHENTI WAKTU #1

BAB 1: SECANGKIR ESPRESSO SEBELUM DUNIA BERHENTI

Kota ini tidak pernah ramah pada orang-orang yang lelah. Di bawah langit malam yang pekat dan guyuran hujan deras yang menghantam aspal, lampu-lampu jalanan berkedip malas, memantulkan bayangan ratusan kendaraan yang terjebak macet.

Rara berjalan memeluk tubuhnya sendiri di atas trotoar yang basah, membiarkan sepatu kerjanya tergenang air. Di kepalanya, suara bentakan atasan dan pesan singkat pemutusan hubungan dari tunangannya berputar seperti kaset rusak. Malam itu, di tengah jutaan manusia yang bergegas pulang, Rara hanya ingin satu hal: menghilang dan menghentikan seluruh hiruk-pikuk ini, walau hanya sedetik.

Saat mencari tempat berteduh dari badai yang kian mengamuk, Rara melihat plang kayu tua yang berpendar hangat di sebuah gang urban yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di sana tertulis nama: Kedai Kopi Penghenti Waktu.

Saat ia melangkah masuk, suasananya sangat kontras dengan luar. Ruangan itu terasa hangat, dipenuhi harum aroma biji kopi panggang yang menenangkan dan alunan musik jazz klasik yang mengalun lirih. Seorang Barista misterius menyambutnya dengan senyuman tipis.

Rara memesan kopi paling pahit yang ada karena merasa hidupnya sedang berada di titik paling pahit. Barista itu menyajikan secangkir espresso khusus dengan motif jam pasir pada busanya.

Saat Rara menyesap sesendok pertama, keajaiban terjadi. Suara hujan di luar mendadak senyap. Ketika ia melihat ke jendela, rintik air hujan menggantung kaku di udara. Jarum jam dinding kedai berhenti berdetak. Dunia di luar membeku total.

Barista itu menjelaskan aturan kedai dengan lembut, "Dunia di luar sedang menunggu Anda, tapi di sini, Anda boleh berhenti berjuang sejenak. Menangislah, habiskan kopinya selagi hangat."

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rara menangis sejadi-jadinya. Ia meluapkan seluruh emosinya tanpa takut dihakimi oleh dunia yang selalu menuntutnya untuk kuat. Saat cangkir kopinya mulai kosong dan mendingin, waktu kembali berjalan, namun beban di dadanya telah sedikit terangkat.