KEDAI KOPI PENGHENTI WAKTU #2

34.218 dilihat
K
Ditulis oleh
Kuwi In
KEDAI KOPI PENGHENTI WAKTU #2

BAB 2: AROMA KAYU MANIS DAN JANJI YANG TERLAMBAT

Lonceng di atas pintu berdenting pelat, memecah keheningan malam yang basah. Rara melangkah masuk, menutup payungnya yang masih meneteskan sisa-sisa hujan Kota. Di balik meja bar kayu ek tua itu, sang Barista sedang mengelap sebuah cangkir porselen dengan gerakan yang ritmis dan tenang, seolah waktu sama sekali tidak mengejarnya.

Barista itu mendongak, melemparkan senyum tipis yang hangat. "Kau datang lebih cepat dari perkiraanku."

Rara berjalan mendekat, merapatkan jaket rajutnya yang sedikit lembap. "Aku takut jika aku menunda satu hari saja, jalan menuju kedai ini akan hilang dari ingatanku."

Barista itu meletakkan cangkir yang sudah bersih ke rak di belakangnya. Dia meraih sebuah celemek kain linen berwarna hijau zaitun yang terlipat rapi di sudut meja, lalu menyodorkannya kepada Rara.

"Pintu kedai ini tidak pernah pindah, Rara. Tapi, ingatan manusia yang lelah memang sering kali menipu mereka," ucap Barista itu datar namun lembut. "Pakai ini. Mulai malam ini, kau bukan lagi pengunjung yang mencari tempat bersembunyi."

Rara menerima celemek itu. Aromanya segar, seperti wangi daun teh yang baru dipetik bercampur samar dengan aroma biji kopi panggang. "Aku... sebenarnya masih bingung. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara membuat kopi yang benar. Di kantor lamaku, pekerjaanku hanya menyusun laporan keuangan."

"Kau tidak perlu tahu cara mengoperasikan mesin espresso untuk bekerja di sini," Barista itu berjalan ke arah jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan Kota yang macet total. Di luar, rintik hujan tampak seperti garis-garis kristal yang jatuh dengan lambat. "Kedai ini tidak menjual kafein untuk membuat orang terjaga."

"Lalu, apa yang kita jual?" tanya Rara sembari mengikat tali celemeknya di pinggang.

Barista itu berbalik, menatap Rara dengan sepasang mata yang teduh namun menyimpan kedalaman misterius. "Kita menjual waktu yang dicuri dari dunia yang terlalu terburu-buru. Tugasmu bukan menyeduh, Rara. Tugasmu adalah mendengarkan lonceng pintu, dan menyambut mereka yang datang dengan jiwa yang patah."

Rara baru saja hendak menanyakan nama sang Barista ketika lonceng di atas pintu tiba-tiba berdenting keras—bukan dentingan lembut seperti saat ia masuk tadi, melainkan bunyi yang tergesa-gesa dan cemas.

Pintu kayu kedai terbuka lebar, mengembuskan angin malam yang dingin ke dalam ruangan. Seorang pria paruh baya melangkah masuk dengan napas memboru. Rambutnya yang mulai memutih tampak basah oleh air hujan. Kemeja kerjanya yang longgar berlumur noda lumpur tipis di bagian lengan, dan tangan kanannya mencengkeram erat sebuah tas kerja kulit yang sudah mengelupas.

Barista itu tidak terkejut. Ia hanya mengangguk pelan pada Rara, sebuah isyarat tanpa suara: Tugasmu dimulai.

Rara menelan ludah, mencoba menguasai rasa gugupnya. Ia melangkah mendekati pria itu. "Selamat malam, Pak. Silakan duduk di sebelah mana saja yang Bapak suka."

Pria itu tersentak, baru menyadari keberadaan Rara. Ia ambruk begitu saja di kursi kayu paling dekat dengan pintu. "Apakah... apakah di sini jam dindingnya berfungsi?" suara pria itu parau, menunjuk jam dinding kuno besar yang tergantung di tengah kedai.

"Jam di sini berjalan seperti biasa, Pak," jawab Rara hati-hati. "Bapak terlihat sangat lelah. Ada yang bisa kami sajikan?"

Pria itu menyugar rambutnya yang basah, lalu tertawa getir. "Saya baru saja kehilangan segalanya, Mbak. Anak perempuan saya... dia menelepon saya satu jam yang lalu. Dia akan menikah bulan depan, dan dia bilang... saya tidak perlu datang. Semua waktu yang saya buang untuk rapat, untuk lembur, untuk mengejar uang... saya pikir itu untuk dia. Tapi ternyata saya salah. Saya hanya melewatkan seluruh hidupnya."

Pria itu menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang kasar. Bahunya mulai terguncang hebat.

Dari balik meja bar, aroma hangat dan manis yang pekat mulai menguar. Barista itu berjalan mendekat dengan nampan kayu, meletakkan secangkir Cinnamon Latte hangat dengan taburan kayu manis berbentuk lingkaran spiral di depan pria itu.

"Minumlah, Pak Surya. Kota di luar boleh terus berjalan dan menuntut Anda, tapi di kedai ini... waktu adalah milik Anda sepenuhnya. Setidaknya, sampai kopi ini mendingin."

Pak Surya mendongak lambat, lalu menyesap cairan hangat itu. Tepat pada sesapan pertama, keajaiban datang tanpa suara. Suara raung klakson kendaraan mendadak lenyap. Rintik hujan di luar membeku, menggantung kaku di langit malam seperti kristal-kristal kaca.

Uap panas yang membubung dari cangkir kopi Pak Surya mendadak meliuk-liuk, merayap naik ke dinding kedai dan membentuk lembaran cahaya keemasan yang berpendar lembut. Dinding kedai berubah menjadi layar kuno, memproyeksikan siluet seorang anak perempuan kecil berpakaian SD yang sedang duduk di teras rumah, terkantuk-kantuk menunggu ayahnya pulang hingga larut malam.

"Nadia..." suara Pak Surya tercekat di tenggorokan. "Dia selalu menunggu saya pulang. Setiap hari saya pulang jam sebelas malam, berpikir besok masih ada waktu. Tapi besok berubah menjadi tahun depan... sampai tahu-tahu dia sudah tumbuh dewasa."

Bayangan di dinding berubah memperlihatkan Nadia remaja yang merayakan kelulusannya sendirian di meja makan, menatap sebuah kursi kosong. Pak Surya menyandarkan keningnya pada dinding kayu, menangisi penyesalan yang ia pendam bertahun-tahun selama menjadi budak korporat.

Perlahan, uap kopi menipis dan pendar cahaya di dinding mulai meredup. Tik. Jarum detik pada jam dinding kembali berdetak. Di luar, ribuan butiran air hujan langsung luruh menghantam bumi. Kemacetan kembali bergerak. Waktu telah kembali.

Pak Surya menyeka air matanya, mengambil tas kulitnya dengan tatapan yang kini memiliki binar baru. "Terima kasih karena sudah menghentikan dunia ini untuk saya," ujarnya. Ia mengambil dompet, namun Barista dengan lembut menolaknya. "Bayarlah dengan waktu yang akan Anda berikan untuk putri Anda."

Pak Surya mengangguk paham. "Saya akan memesan tiket pesawat malam ini juga. Saya akan datang sebagai seorang ayah yang ingin meminta maaf secara langsung. Saya tidak akan membiarkan kursi itu kosong lagi." Pria itu melangkah pergi, melebur bersama tirai hujan Kota dengan langkah yang kokoh.