KEDAI KOPI PENGHENTI WAKTU #3

BAB 3: SECANGKIR MATCHA TERAKHIR DAN BATAS AMBISI

Malam berikutnya, Rara mulai terbiasa dengan ritme kerja kedai. Sebelum pintu dibuka untuk umum, ia mencoba memberanikan diri bertanya tentang asal-usul tempat ini. Namun sang Barista hanya menjawab dengan teka-teki, "Kedai ini hanya muncul bagi mereka yang merasa kehabisan waktu dalam hidupnya."
Lonceng pintu mendadak berdenting lemah, diikuti suara langkah kaki yang terseret. Seorang gadis muda melangkah masuk. Alih-alih mencari meja, ia langsung menyandar pada pilar kayu di dekat pintu, mencengkeram dadanya sendiri dengan sangat erat. Napasnya pendek-pendek, cepat, dan putus-putus. Sebuah tas ransel besar merosot dari bahunya, jatuh ke lantai bersama sebuah laptop.
Rara bergegas mendekat. Ia bisa melihat dengan jelas lingkaran hitam pekat di bawah mata gadis itu. "Hei... Kamu baik-baik saja?"
Gadus itu tidak menjawab. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke depan dengan ketakutan luar biasa. "Se... sesak..." bisik gadis itu akhirnya. Ia mulai merosot ke lantai. "Aku... aku tidak bisa bernapas..."
Rara ikut berlutut di depannya, teringat akan masa lalunya sendiri. "Hei, lihat aku," ucap Rara dengan suara serendah dan setenang mungkin. "Kamu aman di sini. Kamu ada di dalam ruangan, tidak ada apa-apa di luar yang bisa mengejarmu lagi."
Gadis itu menggeleng panik, air mata meleleh di pipinya. "Skripsiku... beasiswaku... semuanya hancur... kepalaku... kepalaku berisik sekali..."
Dari balik meja bar, sang Barista berjalan mendekat dengan tenang, meletakkan secangkir keramik hijau tebal berisi Matcha Latte hangat dengan madu di meja terdekat, memberikan ruang bagi Rara.
Rara perlahan mengulurkan tangan. "Boleh aku pegang tanganmu?" Gadis itu mengangguk lemah. Rara langsung menggenggam jemari gadis itu yang sedingin es dan menempelkannya ke dadanya sendiri. "Ikuti napasku, ya? Tarik napas... satu, dos, tiga, empat... tahan... embuskan perlahan."
Gadis itu mencoba mengikuti. Genggaman tangan Rara yang hangat menjadi jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam dalam kepanikan. Perlahan, ritme napasnya mulai melambat.
"Namamu siapa?" tanya Rara lembut.
"Ghea..." jawabnya parau.
Rara tersenyum tulus. "Hai, Ghea. Aku Rara. Minumlah ini selagi hangat."
Ghea meraih cangkir itu dan menyesap cairan hangat tersebut. Tepat saat sesapan pertama menyentuh kerongkongannya, sebuah gelombang keanehan melingkupi ruangan.
Bagi Ghea, rasanya seolah-olah ia baru saja menyelam ke dalam dasar samudra yang paling dalam. Detik itu juga, seluruh suara di dalam kepalanya—suara bentakan dosen pembimbing, tuntutan nilai dari orang tua, hingga dengung cemas tentang masa depan—mendadak senyap. Senyap se-senyap-senyapnya.
Di luar jendela, hujan kembali membeku di udara. Kemacetan mengunci sinarnya dalam keheningan yang magis. Jam dinding kuno berhenti berdetak. Namun, keheningan ini adalah keheningan mutlak yang damai. Laptop Ghea mati, layar ponselnya membeku, memutus semua notifikasi surel revisi yang biasanya membuatnya jantungan.
Ghea menurunkan cangkirnya lambat-lambat. "Kepalaku... tidak berisik lagi. Semuanya... diam."
Rara tersenyum lembut. "Di sini, waktu berhenti untukmu, Ghea. Hanya ada kamu, dan kehangatan cangkir ini."
Ghea memeluk cangkir matchanya, menikmati kemewahan paling langka yang bisa dibeli oleh manusia modern: sebuah ketenangan tanpa syarat. Namun, seiring berjalannya waktu, cairan hijau pekat di dalam cangkir mulai mendingin.
Tik. Ketukan berat dari jam dinding kembali bergema. Hujan kembali luruh menghantam aspal, dan hiruk-pikuk Kota kembali terdengar.
Ghea menutup laptopnya dengan gerakan pasti. "Terima kasih, Kak Rara. Malam ini aku sadar kalau aku tidak harus selalu menjadi yang paling cepat. Menunda kelulusan satu semester tidak akan membuat duniaku kiamat. Malam ini aku mau pulang untuk tidur delapan jam penuh." Gadis itu melangkah keluar menembus gerimis dengan langkah yang santai.
Rara memandangi kepergian Ghea, lalu berjalan ke arah meja bar. Sebuah pertanyaan besar mendadak terbit di kepalanya. Ia menumpukan kedua tangannya di atas meja bar, menatap sang Barista yang sedang membilas cangkir.
"Tuan..." panggil Rara pelan. "Aku sudah melihat bagaimana kedai ini menghentikan waktu untuk memulihkan jiwa-jiwa yang lelah. Lalu... bagaimana dengan dirimu sendiri? Menu apa yang kau sajikan untuk jiwamu saat kau sedang lelah?"
Pertanyaan itu membuat suasana kedai mendadak terasa dingin. Barista itu tidak langsung menjawab. Ia meletakkan kain lapnya, lalu perlahan mengangkat tangan kanannya ke atas meja.
Untuk pertama kalinya, Rara menyadari sesuatu yang mengerikan. Di balik lengan kemeja hitam yang sedikit tersingkap, tidak ada urat nadi yang berdenyut. Sebagai gantinya, tampak samar guratan-guratan halus berbentuk roda gigi mekanis yang bergerak berputar di balik kulitnya yang seputih porselen.
Barista itu melemparkan senyum tipis yang terasa begitu asing. "Aku tidak pernah lelah, Rara," bisik Barista itu dengan suara yang mendadak terdengar seperti detak jam dinding kuno. "Karena di dalam kedai ini... aku bukanlah orang yang menghentikan waktu. Akulah waktu itu sendiri."