KEDAI KOPI PENGHENTI WAKTU #4

32.230 dilihat
K
Ditulis oleh
Kuwi In
KEDAI KOPI PENGHENTI WAKTU #4

BAB 4: DETAK MEKANIS DI BALIK KULIT PUCAT

Rara mundur beberapa langkah, napasnya tercekat, dan matanya tidak bisa lepas dari pergelangan tangan sang Barista. Ketakutan melingkupinya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Rara meraih tasnya, melepas celemek linennya dengan gemetar, dan langsung berlari keluar kedai menembus hujan malam itu. Namun, sepanjang malam di rumah kosnya, ia tidak bisa tidur. Pertanyaan "Akulah waktu itu sendiri" terus berputar di kepalanya.

Keesokan harinya, realitas luar terasa begitu hampa dan mekanis. Rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Malam harinya, kaki Rara seperti dituntun kembali menuju gang kecil itu. Pintu kedai terbuka, dan aroma kopi menyambutnya seperti biasa.

Di balik meja bar, Barista itu sedang menuangkan air panas ke atas cangkir berisi cairan yang berwarna bening seperti air, namun bergolak meletup-letup dengan uap yang sangat tebal. Rara berjalan mendekat, mencengkeram tepi meja bar kayu ek itu hingga buku-buku jarinya memutih.

"Bagaimana bisa aku tidur dengan tenang setelah apa yang kau tunjukkan semalam?" tuntut Rara. "Siapa kau sebenarnya? Tempat apa ini? Dan... benda apa yang ada di dalam tubuhmu itu?"

Barista itu menarik lengan kemeja hitamnya ke atas, memamerkan kembali roda-roda gigi mekanis berwarna kuningan yang berputar dalam kesunyian di balik kulitnya. "Benda ini bukanlah apa-apa, Rara. Ini hanyalah sisa harga yang harus dibayar. Setiap kali kedai ini mencuri waktu dari Kota untuk diberikan kepada jiwa-jiwa yang hancur—waktu itu harus diambil dari diriku."

Rara mengernyitkan dahi. "Maksudmu... kau menukarnya dengan kemanusiaanmu?"

"Tepat," Barista itu menatap lurus ke arah jendela. "Manusia yang datang ke sini boleh berhenti sejenak, lalu pulang untuk melanjutkan hidup. Tapi aku tidak bisa pergi. Setiap detik waktu yang kuhentikan untuk kalian, mengikis sebagian dari organ tubuhku dan menggantinya dengan logam. Aku dikutuk untuk menjadi abadi di sudut sunyi ini."

Rasa takut Rara perlahan luruh, digantikan oleh rasa pilu yang amat mendalam terhadap entitas paling kesepian di alam semesta ini. "Jadi namamu... Aksara... itu juga bukan namamu yang sebenarnya?"

"Manusia di masa lalu memanggilku Kronos, Waktu, Sang Pengingat. Tapi aku lebih menyukai Aksara. Setidaknya, nama itu membuatku merasa memiliki cerita, bukan sekadar angka yang berdetik."

Aksara kembali membalikkan tubuhnya menghadap rak porselen, seolah obrolan mereka telah usai. Namun, Rara tidak bergerak. Mata Rara tertuju pada celemek kain linen berwarna hijau zaitun di sudut meja. Dengan satu gerakan yang pasti, ia meraih kain itu dan mengikatnya kembali dengan simpul kokoh di balik pinggangnya.

Aksara berbalik lambat, terkejut. "Apa yang sedang kau lakukan, Rara? Kau bebas untuk pergi dan menyelamatkan dirimu sendiri."

"Aku sudah menyelamatkan diriku malam itu, Tuan Aksara," Rara melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. "Kau terus-menerus menampung keputusasaan orang lain, tapi siapa yang menyembuhkanmu? Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini, memakai celemek ini."

"Untuk apa?" Aksara berbisik.

Rara menatap lurus ke dalam sepasang mata pucat itu. "Jika tugasmu adalah menjaga agar waktu orang lain tidak berhenti, maka tugasku di sini adalah menjagamu. Aku akan menjadi pengingat bahwa kau pernah memiliki nama, bahwa kau bisa tersenyum, dan bahwa kau bukan sekadar angka yang berdetik di dinding. Aku akan menjaga kemanusiaanmu, Aksara, agar kau tidak sepenuhnya berubah menjadi besi yang dingin."

Untuk pertama kalinya, sudut lipatan bibir Tuan Aksara bergerak sedikit lebih tinggi. Detak mekanis yang samar di pergelangan tangannya terdengar melambat, seolah mesin di dalam tubuhnya memberikan jeda bagi sebuah rasa yang sudah berabad-abad tidak pernah ia rasakan: rasa tidak lagi sendirian.

Namun, kehangatan itu mendadak buyar oleh sebuah suara asing dari arah depan kedai.

Tok. Tok-tok. Tok.

Suara ketukan pada pintu kayu itu terdengar ganjil. Ketukannya memiliki ritme yang konstan, terukur, dan berulang dengan jeda yang sangat presisi—seolah-olah seseorang di luar sana sedang mengetuk menggunakan kode rahasia.

Aksara mendadak menegang. Senyum tipisnya lenyap, digantikan oleh ekspresi waspada. Pintu kedai perlahan terbuka tanpa perlu didorong dari dalam. Lonceng di atas pintu berdenting jernih, namun bunyinya terdengar gembira sekaligus ganjil.

Seorang pria jangkung melangkah masuk dari balik tirai hujan malam, mengenakan jubah mantel panjang berwarna kelabu tua dan topi fedora yang ditundukkan ke bawah. Namun, yang membuat Rara menahan napas adalah benda di tangan kanan pria misterius itu.

Benda itu adalah sebuah jam saku kuno berbahan perak dengan lapisan kaca yang retak seribu dan dipenuhi noda karat. Dari tempatnya berdiri, Rara bisa mendengar suara detak yang keluar dari jam saku tersebut. Bunyinya nyaring dan berat.

Kit-tak... kit-tak... kit-tak...

Jantung Rara berdegup kencang saat menyadari keanehan mutlak pada benda tersebut: jarum jam di dalam arloji saku itu tidak berputar ke kanan. Jarum-jarum besi kecil itu bergerak berlawanan arah, berputar ke kiri, memutar mundur waktu dengan ketukan yang menentang takdir alam semesta. Jam saku itu berdetak terbalik.

Pria bermantel kelabu itu perlahan mendongak, memperlihatkan sepasang mata tajam yang berkilat di balik bayang-bayang topinya. Ia mengangkat jam saku yang berdetak terbalik itu tepat di depan dadanya.

"Lama tidak berjumpa, Penjaga Waktu," suara pria itu berat dan menggema sunyi di dalam kedai. "Waktumu mungkin telah mati di tempat ini, tapi milikku... milikku justru berjalan mundur. Dan aku datang untuk menuntut janji yang kau buat seabad yang lalu."

Di sebelah Rara, roda-roda gigi di pergelangan tangan Aksara mendadak berputar dengan sangat cepat dan bising, mengeluarkan bunyi derit logam yang memekakkan telinga. Rahasia masa lalu yang jauh lebih besar dan berbahaya, baru saja mengetuk pintu kedai mereka.