Kepingan Warna - Bab 1 part 1

1.467 dilihat
Kaindra Akhdan A.
Ditulis oleh
Kaindra Akhdan A.
Kepingan Warna - Bab 1 part 1

Di pagi hari tanggal 1 juni, aku terbangun, mataku berat dan sayu. Tubuhku juga terasa lengket oleh keringat, sementara cahaya kekuningan menyusup dari sela-sela tirai warna biru cerah, ditemani hembusan angin lembut khas pagi hari.

‎Memulai hariku seperti biasa dengan berangkat sekolah. Tapi hari ini berbeda pagi ini... terasa jauh lebih cerah dari biasanya. Akupun menurunkan kakiku, lalu merenggangkan tubuhku saat turun dari kasur busa yang empuk.

‎Setelah itu berjalan ke arah pintu keluar, meninggalkan tempat yang sangat nyaman bagiku. "Aku berangkat," gumamku dengan membawa roti di mulutku, mengucap selamat tinggal kepada kamar apartemen yang sudah aku anggap rumah sendiri.

◇ ◇ ◇

Di trotoar, aku berjalan perlahan sementara di sekitarku banyak orang lalu-lalang; kendaraan umum yang mulai macet karena banyak orang memulai rutinitas pagi hari mereka. Aku bahkan percaya mereka hanya peduli pada mereka sendiri, atau bisa saja peduli ke oranglain jika mereka memang peduli.

‎Akupun melangkah di sepanjang lantai trotoar yang tertata rapi dan berwarna-warni, di samping jalan raya barisan pohon-pohon hijau menghiasi kota; daun-daunnya menari pelan, sebagian jatuh di terpa angin.

‎"Aku Mizuki Kai, aku berjanji berubah jadi lebih baik... kurasa," gumamku sambil menatap langit.

‎Aku berada kelas 8 tahun ini, dan sudah tinggal di kota ini selama 1 tahun, sejak aku masuk SMP, kota ini sudah sibuk sejak matahari muncul. Sangat berbeda dengan desa tempatku di besarkan, desa yang di hiasi danau, sungai, dan bukit.

‎Aku sering menangkap ikan, bermain lumpur, dan bahkan sekedar kejar-kejaran dengan teman-temanku. Tapi- ‎Whooshh!!, angin tiba-tiba berhembus kencang membuat tumpukan daun kering terbawa ke jalan raya.

‎Aku menundukkan kepalaku sejenak, lalu menatap langit yang cerah, sejauh mata memandang, "Kurasa tidak sehat terus melihat ke belakang."

‎Tanpa basa-basi aku mempercepat langkah, agar tidak terlambat pastinya.

◇ ◇ ◇

Saat berjalan menuju sekolah, Mizuki melewati lampu merah yang mulai padat oleh kendaraan. Berjalan santai dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

‎Beberapa menit kemudian, saat Mizuki melewati gerbang sekolah tanpa menyapa siswa lain. Lalu, segera bergegas menuju kelas barunya. 8-B.

‎Sesampainya di kelas, Mizuki duduk di bangku pojok dekat jendela. Dari sana, melihat langit yang biru cerah, dan awan-awan bergerak perlahan ditiup angin. Tanpa sadar, sebuah senyum tersungging tipis di wajahnya.

‎Mizuki memainkan pulpen di atas buku kosong yang terbuka, menikmati waktu yang tenang sebelum pelajaran dimulai. Tapi itu tidak berlangsung lama, seseorang berlari di koridor.

‎Srett!!

‎Suara pintu bergeser, membuat Mizuki terpaksa menoleh, dan mendapati seorang gadis berdiri diam. Tatapannya menatap lantai, nafasnya juga tersengal-sengal.

‎"Aaa!! syukurlah... aku tidak terlambat." sorak gadis itu.

‎Sementara Mizuki hanya, memperhatikan gadis itu menghela nafas yang panjang, seolah menunggunya masuk tanpa mengucap sepatah kata.

‎"Hai!" kata gadis itu sambil melambaikan tangan ke arah Mizuki.

‎Gadis itu melangkah masuk, lalu mengambil tempat duduk di samping Mizuki tanpa pikir panjang, "Apa aku boleh duduk disini?" tanyanya setelah duduk di kursi itu.

‎Mizuki hanya bisa mengganguk, lalu kembali ke buku kosong yang sudah terbuka sedari-tadi, sampai-sampai ada bekas cahaya di sisi lembar kertas membentuk bayangan pulpen.

‎Srett!!

‎Gadis itu berdiri, membuat suara nyaring dari suara kursi yang bergeser cepat, menggema selama beberapa saat, "...Salam kenal aku Wakana Lizia, nama kamu?"

‎Mizuki mendongak perlahan. Dia berkedip beberapa kali, memastikan gadis itu berbicara dengannya, "Mizuki Kai..."

‎"...Salam kenal juga." tambah Mizuki.

‎Setelah itu, waktu seolah mengalir lambat, Mizuki kembali menatap langit di luar jendela tempat burung-burung terbang melintas dengan bebas.

‎"Kurasa..." gumam Mizuki, teringat kalimat yang dia ucapkan saat berangkat ke sekolah.

‎...Aku janji jadi lebih baik ya.

◇ ◇ ◇

Selama waktu terus berjalan, kini waktu pelajaran pertama dimulai. Kelas yang tadinya sepi, menjadi ramai seketika.

‎"Mizuki? kamu punya penghapus?" tanya Wakana.

‎"Apa kau tidak punya sendiri?" kata Mizuki tanpa menoleh sedikitpun.

‎"Sepertinya terjatuh, hehe..." ucap Wakana malu-malu.

‎Mizuki lalu menoleh perlahan, menatap mata Wakana selama beberapa detik-mencari jawaban apakah gadis ini memang se-ramah itu? setelah menghela nafas, lalu dia meraba kotak pensil dan menyerahkan benda kecil itu.

Saat ‎Wakana mengulurkan tangan, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan saat mengambil penghapusnya.

‎"Terima kasih," ucapnya seolah tidak memperdulikan hal itu

‎Sementara Mizuki, merasakan sensasi yang tidak pernah dia rasakan. "Halus."

‎Tak! tak!! tak!

‎"Baiklah anak anak, ada pengumuman yang akan bapak sampaikan, hentikan aktifitas kalian dan silahkan menghadap ke papan tulis," ujar Pak Guru sambil mengetuk meja dengan penggaris.

‎Suasana yang tadinya riuh mendadak senyap. Mizuki mengalihkan pandangannya dari jendela, sementara Wakana tampak antusias menunggu Pak Guru menyampaikan pengumumannya.

‎"Hari ini, kita kedatangan teman baru, semoga kalian bisa akrab. Silahkan masuk Izumi."

‎Pintu kelas bergeser pelan, memunculkan sosok gadis dengan rambut pirang yang tampak berkilau tertimpa cahaya lampu. Kehadirannya seolah membawa hembusan angin segar yang mendadak mengubah suasana tegang kelas menjadi jauh lebih ceria.

‎"Salam kenal semuanya," seru gadis itu. dia melambaikan kedua tangannya dengan antusias, diiringi senyum lebar yang membuat matanya menyipit.

‎"Namaku Izumi Kana, mohon kerjasamanya, semuanya!"

‎Suara Izumi yang nyaring membuat beberapa murid laki-laki mulai berbisik heboh, sementara Wakana di sebelah Mizuki langsung menegakkan duduknya. Sementara Mizuki hanya memperhatikannya.

‎Wakana seketika berdiri dari tempat duduknya dengan sangat cepat-bahkan kursinya sampai berderit nyaring di lantai kelas. Senyumnya kini jauh lebih lebar dari sebelumnya.

‎"Kana!" serunya sambil melambaikan tangan dengan bersemangat.

‎Mata Izumi berbinar, "Lizia!"

‎"Ahahaha, baiklah kalau begitu. Izumi, kamu silakan duduk di sebelah Wakana," Ucap Pak Guru, meskipun sebenarnya suaranya nyaris tidak terdengar, tertutup kericuhan murid di kelas.

‎Izumi melangkah dengan cepat ke arah Wakana. Dan langsung memeluknya dengan erat, mengabaikan tatapan heran di dalam kelas, "Lizia... aku kangen!!" serunya.

‎"Aku juga!" balas Wakana dengan antusias.

‎Di samping mereka, Mizuki yang sedang duduk tepat di sebelah mereka, hanya bisa menggeser kursinya sedikit menjauh. Dia menopang dagunya, memalingkan wajah menatap pemandangan di luar jendela tanpa sambil tersenyum tipis memperhatikan burung-burung terbang bebas di langit.

‎Setelah puas, Izumi manarik dirinya, lalu menaruh tasnya di bangku samping Wakana. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mulai berbisik-bisik diselingi tawa kecil, saat bercerita tentang masa lalu yang hanya di ketahui mereka berdua.