Kepingan Warna - Bab 1 part 2

1.332 dilihat
Kaindra Akhdan A.
Ditulis oleh
Kaindra Akhdan A.
Kepingan Warna - Bab 1 part 2

Krinkk!! Krinkkk!! Krinkk!!

‎Bunyi suara bel jam istirahat menggema ke seluruh penjuru sekolah, meninggalkan suasana gaduh dari murid-murid lain: suara kursi di seret, obrolan murid-murid dan sisa bunyi bel bergabung menjadi satu.

‎Sementara itu Pak Guru yang sedang menjelaskan materi langsung berhenti. Dan kini merapikan buku dan peralatan yang dia bawa, bersiap meninggalkan kelas.

‎"Kalau begitu saya akhiri pelajaran kali ini. Silahkan istirahat," ujarnya, lalu melangkah keluar kelas dengan tenang.

‎Mizuki masih tetap di mejanya. Duduk sambil melamun, menatap langit tanpa ada rasa bosan. Tatapannya menuju ke awan-awan yang ada di balik jendela, sembari di ikuti binar tipis tersungging di wajahnya.

‎"Mizuki, apa kamu mau ikut kami?" ujar Wakana.

‎Gadis itu berdiri di samping meja sambil membawa tas kecil di lengannya menunggu jawaban, sementara Izumi berada di belakangnya dengan sisa senyuman ramah yang masih menempel di wajahnya.

‎"...Tidak," jawab Mizuki singkat. Bahkan tidak menoleh sedikit pun, tangannya diam-diam mengepal secara perlahan di atas meja.

‎Wakana terdiam sesaat, saat melirik ke arah yang ditatap Mizuki, beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, "Okee." Katanya, lalu melangkah sambil melambaikan tangan ke arah Mizuki, meninggalkannya sendirian di kelas.

‎Suara langkah kaki mereka menggema di kelas, perlahan menjauh sebelum menghilang bersamaan dengan obrolan dan tawa yang perlahan samar. Kini, hanya ada Mizuki yang perlahan bernafas lega dan kepalan tangannya melonggar seiring menghilangnya kedua gadis itu.

‎Namun, tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang lumayan berat, berbeda dengan mereka-hanya satu orang.

‎"Permisi," suara itu terdengar santai, dan berat untuk ukuran anak smp.

‎Mizuki yang sedang menyantap bekal di mejanya mendadak menoleh, dia mengerutkan keningnya begitu melihat siapa yang datang, "Ada apa Ren?"

‎"Kau tetap santai seperti dulu ya?," sahut Fujiwara.

‎"...Lalu?" balas Mizuki dengan datar.

‎Fujiwara tertawa santai, "Hahahha, sama sekali tidak berubah. Apa kamu kenal mereka berdua.

‎"Ya, tapi... hanya kebetulan, mere-"

‎"Ya, aku tahu." sela Fujiwara.

‎"Hah?."

‎"Aku bahkan percaya jika kau diam saja... Kai."

‎"Ya... maafkan aku," Mizuki memalingkan wajahnya dengan cepat. Tapi, kini ekspresi wajahnya mulai cerah dengan kehadiran Fujiwara.

◇ ◇ ◇

‎Sementara itu, di kantin yang ramai, Wakana sibuk menyantap bekalnya, disampingnya Izumi baru saja kembali setelah membeli sesuatu. Sebuah roti lapis ada di genggamannya.

‎"Kana, gimana kabar Hana?" tanya Wakana, suaranya agak tidak jelas karena mulutnya masih penuh dengan makanan.

‎Izumi terdiam sejenak, mencoba mendengar pertanyaan Wakana di tengah bisingnya kantin, "Mmm... katanya, Hana juga sekolah di sini sih."

‎"Eh... beneran?" Wakana spontan menelan makanannya, membuat matanya membulat sempurna.

‎"Hmm.. tapi aku nggak tau dia dimana," jawab Izumi sambil duduk di sebelah Wakana. Dia masih memakan roti lapisnya, yang kini secara ajaib menggenggam satu susu kotak di tangan kirinya.

‎Beberapa saat kemudian, secara tiba-tiba bahu Izumi merosot, seolah meleleh di atas meja kantin, "Hueee... Hana, aku kangen! kamu di kelas yang mana sih!" katanya, sambil menghentakkan kakinya ke lantai seperti anak kecil yang sedang kesal.

‎"Yoshi yoshi~," Sementara Wakana menghiburnya dengan dramatis. Tangannya bergerak membelai lembut rambut Izumi, berusaha menenangkan adik kecilnya yang mendadak suasana hatinya memburuk.