Kepingan Warna - Bab 2

1.208 dilihat
Kaindra Akhdan A.
Ditulis oleh
Kaindra Akhdan A.
Kepingan Warna - Bab 2

‎"Lizia, Makasihh..." gumam izumi pelan. Bahunya merosot dan mata tampak sedikit sembab saat dia mengatakannya.

‎"hmm... iyaa, sama-sama~" sahut Wakana. Dia menenangkan adik kecilnya: memeluknya, dan membelainya dengan lembut dan penuh kasih sayang tepat di kepalanya.

‎Setelah Izumi mulai tenang, mereka melanjutkan memakan makanan di tengah suasana kantin yang ramai. Beberapa saat kemudian, mereka di kejutkan oleh bayangan yang tampak asing bagi Wakana, tapi... tidak bagi Izumi.

‎Seorang gadis berdiri mematung di depan meja mereka, sambil membawa piring berisi nasi yang di balut kari dengan aroma rempah yang harum, dia menatap lama Izumi. Bibirnya bergetar seolah ingin mengucapkan kata, tapi tidak ada suara yang keluar.

‎Izumi yang awalnya merasa terganggu oleh orang asing yang berdiri terlalu dekat, dia bangkit berdiri dengan cepat. Tapi dia terdiam beberapa saat.

‎"Hana!!" seru Izumi. Nadanya ceria, dia tersenyum lebar seolah kesedihan yang tadi hilang digantikan oleh keceriaan.

‎"...Izumi? apa aku boleh duduk disini?" tanya gadis itu. Matanya menatap lantai dan tangannya menggenggam lipatan roknya, seolah menyembunyikan sesuatu.

‎"Tentu aja!" seketika Izumi merebut piring yang dipegang gadis itu lalu menaruhnya di atas meja, sementara gadis itu terdiam oleh gerakan tiba-tiba Izumi.

‎"Izum- terima kasih..." gadis itu pun duduk di depan Izumi. Tangannya tampak gelisah masih memainkan lipatan roknya, sementara matanya masih tertuju ke lantai kantin yang mengkilap.

‎"Sama-sama," Izumi balasnya dengan senyum lebar di menghiasi pipinya.

‎Saat gadis itu mulai menyantap makanannya dengan lahap, Wakana hanya diam. Dia mulai bergumam pelan sambil terus menatap gadis asing itu, seolah mencari jawaban siapa dia sebenarnya.

‎Izumi menyadari jika Wakana sedang menatap gadis di sampingnya, dengan mata penasaran. Dia mulai membuka bibirnya dengan enggan.

‎"Lizia?" sahut Izumi.

‎Wakana tersentak kecil karenanya, lalu buru-buru mengalihkan pandangan dengan cepat. "I-iya?... Kana, kenapa?" jawab Wakana dengan senyum masam dan nafasnya sedikit tidak teratur.

‎"Kamu kenal dia?" kata Izumi dengan polosnya bertanya, hal itu sukses membuat gadis di sampingnya tersedak.

‎"Izumi!" tegur gadis itu cepat. Semetara dia sibuk membersihkan bibirnya yang kotor, karena bumbu kari yang menempel di samping bibirnya.

‎"Maaf perkenalannya terlambat," ucap gadis itu. Lalu, dia menegakkan duduknya. "Salam kenal, aku Fuyuka Hana dari kelas 8-D."

‎Rambut putih panjang yang halus tergerai rapi, kontras dengan mata tajamnya seolah menusuk seperti es, dan warna kulit seputih salju mengiringi perkenalannya.

‎Wakana yang sebelumnya tersenyum masam, kini akhirnya tersenyum lebar. Rambut yang dia ikat ponytail, dan matanya yang berbinar hangat menunjukkan bahwa dia tidak mau kalah dengannya.

‎"Salam kenal juga, aku Wakana Lizia dari kelas 8-B." ‎

‎Keduanya lalu saling berjabat tangan, dan saling tersenyum satu sama lain. Mengubah suasana canggung menjadi terasa jauh ringan. ‎

‎"Aku sampai nggak nyangka beda banget lo." ‎

‎"Iyakan? Hana itu cantik lho." ‎

‎"Uh..."

◇ ◇ ◇

Sementara itu, di kelas 8-B. Nampak dua sosok bayangan remaja laki-laki yang saling tenggelam di lamunan masing-masing. Mereka menatap langit, memperhatikan betapa bebasnya burung-burung terbang ke sana kemari tanpa perlu memikirkan apa yang terjadi di bawah sana.

‎"Kai, kenapa kau selalu menyendiri?" tanya Fujiwara memecah keheningan.

‎Dia menaruh dagunya di atas meja tepat di depan Mizuki, dan menghela nafasnya yang berat. Sambil menatap dengan penasaran, jarinya kini mulai memainkan penghapus yang tergeletak di atas meja.

‎"..." Mizuki terdiam sesaat. Dia menatap Fujiwara yang menempelkan dagunya di meja, dia terdiam, mencerna pertanyaan Fujiwara sebelum menjawabnya.

‎Dengan mulut yang seolah enggan terbuka, lalu akhirnya dia menjawab dengan datar, "...Memangnya kenapa?"

‎Fujiwara memainkan penghapusnya sekali lagi. seolah jawaban itu terasa agak aneh baginya, "Ya... soalnya biasanya seumuran kita suka..."

‎Fujiwara bangkit dari posisi tidurannya, lalu menopang dagunya dengan tangan di atas meja, "...Berteman, bercanda, dan berpergian ke suatu tempat bersama-sama." katanya dengan santai seolah kata itu tidak memilki beban untuknya.

‎Mizuki yang awalnya menatap langit, seketika terdiam. Bahunya merosot. Dia menatap kosong ke arah Fujiwara, lalu sebuah senyum masam muncul di wajahnya.

‎"Ya... karena itu terasa menyebalkan untukku."

‎Sreett!!

‎Suara pintu bergeser pelan, berderit khas kayu yang sudah tua. Tepat saat Mizuki baru saja menyelesaikan kalimatnya. Lalu, seorang gadis muncul dari arah pintu keluar, tampak elegan nan anggun dengan gaya rambut messy bergelombang.

‎"Permisi," kata gadis itu, suaranya lembut dan halus seperti angin khas musim semi.

‎Mereka berdua tersentak dan menoleh cepat ke arah pintu, lalu saling bertatapan dengan heran. ‎

"Kamu yang memanggil dia?" ujar Fujiwara. Menunjuk arah gadis itu dengan ibu jarinya. ‎

Sementara Mizuki hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat. ‎

‎"Aoi, kenapa kamu kesini?" tanya Fujiwara dengan suara tidak sesantai biasanya. ‎

‎"Bukannya ini kelas 8-C?" kata gadis itu mendekat ke arah mereka dengan langkah kaki yang pelan dan senyum lembut seolah memberi tahu jika dia gadis yang anggun dan elegan.

‎"Bukan ini kelas 8-B, Aoi."

‎"...Eh aku salah kelas? tapi..." gadis itu menatap Mizuki dan berkedip beberapa kali, lalu tersenyum, "Apa kamu temannya Ren?" tanya gadis itu ke Mizuki.

‎"...Ya."

‎"Apa dia mengganggumu?"

‎"Sedikit," jawab Mizuki singkat.

‎"Hah?" Sela Fujiwara dengan cepat.

‎"Ehh~ jadi gitu ya," gadis itu mendekat dan langsung menjewer telinga Fujiwara dengan senyum yang tampak mengerikan.

‎Sementara, Fujiwara meringis kesakitan karena telinganya yang tiba-tiba ditarik oleh gadis itu.

‎"Ayo minta maaf," dia tersenyum lebih manis dari sebelumnya, tapi di mata Fujiwara itu senyuman yang mengerikan.

‎Mizuki yang melihat semua kejadian itu, hanya bisa terdiam dan menurutnya agak lucu. Karena jarang melihat seorang gadis berani menjewer telinga laki-laki, yang bahkan lebih tinggi darinya.

‎Fujiwara menghadap Mizuki yang tampaknya masih kesakitan oleh kejadian tadi, Mizuki saat itu tidak sanggup menatapnya karena kejadian tadi, dia memalingkan wajahnya dan bibirnya agak berkedut saat menatap Fujiwara.

‎Fujiwara yang tahu tentang itu langsung protes, "hey liat aku dasar bodoh," katanya dengan nada kesal dan ada rona merah muda di bawah matanya

‎"Pfftt, hahahha," Mizuki tidak tahan, melepas tawa nya dengan lega.

‎"ughh... sudah cukup," protes Fujiwara yang masih memiliki rona merah muda di wajahnya.

‎Mizuki lalu menghentikan tawanya, menyisakan bibirnya yang berkedut tipis, "Oke aku sudah lega."

‎"Hey, bibirmu masih bergerak." kata Fujiwara dengan cepat.

‎"Sudahlah."

‎Gadis itu merasa lega, karena nampaknya dia juga tau jika ini kali pertama Mizuki tertawa dengan lepas.

‎"Baik-baik, Ren sudah cukup bercandanya," sela gadis itu dengan mengangkat tangannya. Dan seketika Fujiwara menegang karenanya.

‎"Ahh iya, maafkan aku." kata Fujiwara dengan nada cepat seolah panik. Lalu, dia terhenti sejenak, sebelum menarik nafas dalam dalam, "...Karena sudah mengganggumu," tambahnya.

‎Fujiwara langsung memalingkan ke gadis itu, dan pada akhirnya bahunya menjadi lebih rileks, dia menghela nafas lega mendapati gadis itu tersenyum

‎Gadis itu mendekat ke arah Mizuki dengan langkah kaki yang pelan tapi pasti, "Salam kenal ya, Aku Kaguya Aoi dari kelas 8-C."

‎Mizuki yang awalnya bingung menjadi lega setelah gadis itu yang bernama Kaguya memperkenalkan dirinya, jujur saja dia agak menyeramkan jika tersenyum manis

‎"Um... iya, salam kenal juga. Namaku Mizuki Kai."

‎"Mizuki ya? maaf jika dia mengganggumu ya" Kaguya lalu duduk di samping mereka, menarik kursi di sebelah meja Mizuki.

‎"Apa aku boleh ikut mengganggumu?" tambah Kaguya sambil tersenyum. ‎

‎"..." Mizuki terdiam sejenak, lalu menerima ajakan Kaguya, sebelum dia menyesali perbuatannya sendiri. ‎

‎Kaguya dan Fujiwara meninggalkan kelas setelah berbincang lama dengan Mizuki dan berakhir saat jam istirahat ingin usai. ‎

‎Setelah suasana menjadi hening kembali, Mizuki menghela nafas panjang. Menikmati sisa jam istirahat.