Kepingan Warna - Bab 3

917 dilihat
Kaindra Akhdan A.
Ditulis oleh
Kaindra Akhdan A.
Kepingan Warna - Bab 3

‎Krinkk!! Krinkkk!! Krinkk!!

‎Bel berbunyi, menandakan istirahat telah usai. Mizuki menghela nafas berat. Dia duduk di kursinya dengan tatapan kosong. Mengingat obrolan tadi.

‎Banyaknya pertanyaan yang di lontarkan Kaguya membuatnya kelelahan. Dia menaruh dagunya di atas meja dan menghela nafas panjang, sekali lagi, "Aku tidak menyangka jika Kaguya bisa se-mengerikan itu," gumamnya pelan. ‎

‎Sementara di koridor, Wakana dan Izumi masih bercanda dan tertawa. Mereka berjalan menuju kelas 8-B, setelah berpisah dengan Fuyuka di depan kelas 8-D. Langkah kaki mereka seirama saat berjalan, menunjukkan mereka sering berjalan bersama dulu. ‎

‎Begitu sesampainya di depan kelas, mereka pun masuk secara bersamaan. Kemudian, Izumi kembali ke dunianya sendiri, sibuk bergosip dengan teman-teman barunya. Sementara, Wakana bejalan menuju kursinya. Namun, langkahnya berhenti saat melihat Mizuki yang tidur di atas mejanya: terlihat lelah? ‎

‎Lalu, tanpa pikir panjang Wakana berinisiatif mendekatinya, tapi dia tidak sengaja mendengar helaan nafas Mizuki yang terdengar berat dan lelah. Melihat Mizuki seperti itu, Wakana merasa ada sesuatu yang sesak, seolah udara di sekitarnya menekan dadanya. ‎

‎Setelah itu, tangan Wakana bergerak tanpa sadar. Membelai lembut rambut Mizuki dengan penuh perhatian, sama seperti yang dia lakukan untuk menenangkan Izumi yang tantrum saat suasana hatinya memburuk. ‎

‎Lalu, Mizuki tersentak oleh perbuatan Wakana. Namun, dia tidak mengubah posisinya sedikitpun. Sebaliknya, Mizuki merasa lega tanpa alasan jelas, saat tahu siapa yang sedang membelainya. ‎

‎"Mizuki-" Wakana mendadak tersadar, dia terdiam kaku. Perlahan rona merah merambat naik hingga ke ujung telinganya. Tapi anehnya, dia tidak menarik tangannya. Melainkan tetap membelai rambut Mizuki dengan lebih lembut, jauh lebih hati-hati daripada sebelumnya. ‎

‎Saat itu, waktu seolah melambat. Suara obrolan murid-murid di kelas perlahan meredam, menyisakan detak jam dinding yang terdengar jelas, detik demi detik. ‎

‎Beberapa saat kemudian. ‎

‎Dari kejauhan. Izumi yang tadinya asyik dengan di dunianya sendiri, mendadak penasaran saat melihat Wakana menyentuh Mizuki. Dia memperhatikan Wakana tersenyum dengan mata yang setengah terpejam, seolah tampak menikmati momen itu. ‎

‎Izumi tanpa pikir panjang, melangkah mendekat dengan menghentakkan kakinya. Bibirnya cemberut dan tangan mengepal lemah. ‎

‎"Lizia, kamu ngapain?" tanya Izumi, seketika memecah suasana nyaman di mereka. Dia seolah tak rela jika Wakana seperti itu selain untuk dirinya. ‎

‎"Eh, K-kana?" Wakana langsung menarik tangannya dengan panik. Semburat merah kini terlihat jelas menghiasi pipinya. ‎

‎"Lizia, bukannya kamu janji kayak gitu buat aku doang?!" seru Izumi dengan wajah cemberut dan mata yang menajam. Alih-alih terlihat seram, ekspresi itu membuatnya tampak seperti anak kecil yang sedang merajuk. ‎

‎"I-iya, iya... maaf," kata Wakana canggung, bingung harus menjelaskan apa. ‎

‎Di saat yang sama, Mizuki juga tidak tahu mengapa dia menikmatinya. ‎

‎"Rasanya.. nyaman," gumamnya tanpa sadar. ‎

‎Mizuki terdiam sejenak. ‎

‎"Hah?.. apa yang aku katakan?" Mizuki berfikir panjang seolah mencoba mengingat semua apa yang telah terjadi sebelumnya. ‎

‎"..."‎

‎Setelah mengatakan semua isi hatinya, Mizuki sama sekali tidak bisa fokus ke materi. Karena memikirkan hal itu terus menerus. Meskipun dia berusaha melupakannya tapi itu sia-sia. ‎

◇ ◇ ◇‎

‎Krinkk!! Krinkkk!! Krinkk!! ‎

Bunyi bel menggema di seluruh sekolah menandakan waktu pulang telah tiba. ‎

Kelas mendadak berisik oleh suara kursi-kursi yang bergeser, obrolan murid yang bersiap untuk pulang dan berkunjung ke suatu tempat bersama-sama sebelum pulang ke rumah masing-masing. ‎

‎Sementara, Mizuki, sengaja menunggu sampai kelas benar-benar sepi, hingga ruangan itu dipenuhi cahaya senja yang hangat-momen yang tidak akan pernah membuatnya menyesal untuk bertahan sedikit lebih lama. ‎

‎Beberapa saat kemudian, Wakana masuk kembali ke kelas mencari bukunya yang tertinggal. Tanpa sengaja, dia melihat Mizuki tersenyum untuk pertama kalinya. Lalu tertegun oleh pemandangan langka itu. ‎

‎"Selamat sore, Mizuki" sapanya sambil tersenyum ramah. Lalu, Wakana segera menuju kursinya, berusaha mencari buku di kolong mejanya. ‎

‎Sementara, Mizuki menoleh dan memperhatikannya dari bangkunya. Melihat Wakana yang fokus mencari sesuatu di kolong meja dengan serius, dan tanpa sadar senyum kecil kembali tersungging di wajah Mizuki. ‎

‎"...Ketemu," gumam Wakana pelan. Meskipun, suaranya masih terdengar jelas karena kelas yang hening. Wakana lali menoleh ke Mizuki dan menyadari kalau cowo itu tengah senyum samar ke arahnya. ‎

‎Seketika itu, Wakana teringat kembali kejadian tadi siang. Rona merah kembali muncul di pipinya. Sedangkan, Mizuki menangkap jelas pemandangan itu-saat Wakana sedang berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. ‎

‎Beberapa saat kemudian, Wakana akhirnya berdiri, memposisikan dirinya menghadap Mizuki dengan tatapan serius. "Mizuki," panggilnya, berusaha menyembunyikan rona merah yang sebenarnya sudah gagal total. "Kamu aslinya saat itu tidak tidur kan?" ‎

‎Mizuki tidak langsung menjawab. Seolah dia memutar kembali memori, saat dimana tangan Wakana membelainya. Perlahan tapi pasti, bibirnya pun terbuka dan menjawab singkat, "Iya." ‎

‎Namun di saat setelahnya, Wakana mematung seketika. Kali ini, rona merah benar-benar memenuhi seluruh wajahnya. Tanpa bisa berkata-kata; suaranya seolah tercekat di tenggorokan. ‎

‎Mizuki yang sedari tadi memperhatikannya, kini berdiri perlahan dan menyampirkan tas di lengannya, bersiap untuk meninggalkan kelas. Kemudian, dia melangkahkan kakinya, tapi berhenti sejenak saat melewati Wakana. ‎

‎"Terima kasih," ucap Mizuki pelan. ‎

‎Lalu, Mizuki melanjutkan melangkah. Pergi meninggalkan kelas. Yang kini, hanya menyisakan Wakana yang sedang membeku di tempat: tanpa bergerak sama sekali. ‎‎‎

◇ ◇ ◇‎

‎Sementara itu, Wakana masih membeku di tempatnya. Pikirannya masih berputar di kejadian yang baru saja menimpa dirinya. ‎

‎"Terima kasih?" gumamnya pelan, sambil berkedip beberapa kali. Mencoba mencari arti kata itu. Tidak mungkin Mizuki mengucapkan kata-kata tanpa maksud. ‎

‎"Aku ingin menghilang... tapi... ughh," Wakana menutup wajahnya, meratapi betapa malunya dirinya saat ini. ‎

‎Di koridor, Izumi yang sedang berjalan kembali ke kelas, tidak sengaja berpapasan dengan Mizuki yang juga dari arah kelas. ‎

‎"Selamat sore, Mizuki," sapa Izumi. Dia sempat berhenti sejenak dan menatap heran ke arah Mizuki. Ini pertama kalinya Izumi melihat Mizuki berjalan dengan sisa senyum yang masih menempel di wajahnya. ‎

‎"Lizia.. lama banget sih," gumam Izumi sambil lanjut melangkah ke kelas. ‎

‎Begitu sampai di depan pintu, Izumi melihat Wakana yang berdiri diam, menatap kosong ke arah langit lewat pantulan jendela kelas. ‎

‎"Lizia?..." ‎

‎Panggil Izumi pelan. Suara merendah saat melihat sahabatnya melamun seperti itu. Tanpa pikir panjang, dia melangkah mendekat dengan sangat perlahan. ‎

‎"Lizia?" ‎

‎Sahutnya lagi, namun Wakana tidak meresponnya. Setelah jarak mereka dekat, Izumi menyadari sesuatu: telinga Wakana merah padam dan suara nafasnya terdengar pendek. ‎

‎"Lizia? kamu tidak apa-apa?" tanya Izumi panik. Dia langsung memeluk Wakana erat-erat dari belakang. Izumi seolah tau apa di rasakan Wakana, atau hanya berpura-pura tau. ‎

‎"Waaaahhh!!!" ‎

‎Wakana hampir meloncat. Nadanya meninggi karena tindakan Izumi yang tiba tiba. ‎

‎"K-kana?... ada apa?" tanya Wakana senyumnya kecut, dan berusaha menenangkan dirinya. Dia merasa jantungnya seolah ingin copot dan nafasnya menjadi tersengal-sengal. ‎

‎"Lizia? hmm... kamu kok tersipu??" goda Izumi. Dia menyeringai kecil sambil memiringkan kepalanya mencoba menangkap tatapan sahabatnya. ‎

‎"E-engga kok, ...aku nggak malu Kana," jawab Wakana. Jemarinya sibuk menyisir rambut, berusaha menyembunyikan telinganya yang memerah dibalik helaian rambutnya yang halus. Sebuah senyum gugup tersungging di wajahnya. ‎

‎"Beneran? Hmm... oke! Tapi Lizia, kamu tau?, tadi Mizuki jalan sambil senyum loh!" Izumi bercerita dengan mata berbinar, seolah baru saja menyaksikan pemandangan paling langka di hidupnya. ‎

‎Seketika itu, pertahanan yang di bangun Wakana runtuh. Semburat merah benar-benar memenuhi wajahnya, "B-benarkah?" tanyanya dengan suara gagap, dan pandangan yang tidak menentu: berpindah-pindah dari lantai ke langit-langit kelas dengan cepat. ‎

‎"Ehhh!!!! Lizia, kamu tersipu beneran ya?!!" sorak Izumi riang. Matanya berbinar, senang melihat Wakana yang kini seperti buah tomat yang matang. ‎

‎"Kana!! kam-"‎

‎"Permisi." ‎

‎Suara itu menyela dari arah pintu. Seorang cowo berdiri disana, gaya rambut belah tengah hitam. Tubuhnya nampak atletis di balik seragamnya, meskipun tatapannya datar, ada kesan tegas di matanya. ‎

‎Wakana dan Izumi seketika menoleh ke arah cowo itu. Dia memakai kacamata bulat bertulang tipis menghiasi wajahnya, membuatnya elegan dan tampan dalam satu paket. ‎

‎"Iya?" sahut Izumi dengan penasaran. Matanya berkedip cepat, terpaku pada sosok asing di depannya.

‎Sementara Wakana, berhasil menenangkan diri meskipun ada sisa-sisa rona merah masih tertinggal di pipinya. Dia ikut menatap cowo itu dengan dahi berkerut, merasa asing.

‎"Apa ini kelas 8-D?" tanya cowo itu, nada suaranya tenang dan terdengar sangat santai.

‎"...Kayaknya kamu salah kelas," jawab Izumi. Dia berlari kecil ke arah pintu, menjulurkan jari mungilnya ke arah koridor. "Jadi kamu nanti kesana, lewati tangga sama satu kelas lagi."

‎Setelah memberi petunjuk, Izumi mendongak untuk menatap cowo itu. Dia sempat menelan ludah dengan susah payah saat mata di balik kacamata itu balas menatapnya dengan datar.

‎"Terima kasih," sahut cowo itu singkat. Dia lalu berbalik dan melangkah pergi, melewati tangga dan koridor tepat seperti arah yang di tunjukkan Izumi.