Kepingan Warna - Bab 4 part 1

Selasa, 2 Juni.
Wakana memulai paginya dengan sarapan. Uap tipis mengepul berasal dari semangkuk sup miso hangat di atas meja kayu. Aroma ikan sarden tumis dengan kecap asin memenuhi dapur kecilnya.
Sebelum melangkah pergi, Wakana tidak lupa melihat dirinya di pantulan kaca bersiap untuk berangkat sekolah. Dia merapikan seragamnya, memastikan semuanya sempurna. Sekilas, memori kemarin terlintas kembali: pertemuannya dengan Izumi, momen canggung saat dia membelai rambut Mizuki, hingga sosok cowo misterius yang tiba-tiba muncul.
Dia menghela nafas lega, mengetahui hari itu sudah berlalu meskipun hanya kemarin. hal itu sudah cukup lama bagi dirinya. Setelah itu, Wakana melangkahkan kakinya melewati pintu apartemennya, dan tidak lupa menutup kembali pintunya yang berlabel.
Kamar No.14, Wakana Lizia.
Suara langkah kakinya menggema di koridor. Saat pagi hari. Beberapa penghuni apartemen keluar hampir bersamaan untuk berangkat kerja atau sekolah, saat dia melewati kamar-kamar itu, dia tersenyum kepada orang yang di temui nya di sepanjang koridor apartemen.
Selain itu, suasana pagi dengan hembusan angin lembut menambah ketenangan yang biasa menyambutnya di pagi hari. Saat memasuki lift itu, dia menekan lantai 1 yang sebelumnya Wakana ada di lantai 2.
Suara lift mendengung rendah, menghiasi suasana pagi Wakana sekali lagi. Dia kemudian mulai melangkah pergi dari apartemen tempatnya tinggal.
◇ ◇ ◇
Setelah beberapa saat, tanpa sadar gerbang sekolah sudah ada di depannya. Wakana tiba-tiba bersemangat lalu berlari kecil, memejamkan matanya sejenak sambil membayangkan suasana kelas yang tenang dan sejuk, membuatnya tidak sabar ingin masuk ke kelasnya.
Bruk!!
"Aduh," tanpa sengaja, Wakana menabrak sesuatu yang keras, karena tidak fokus sebab terlalu bersemangat, saat dia membuka kembali matanya dan mendongak ke atas. Dia mendapati cowo yang kemarin datang ke kelasnya saat jam pulang sekolah.
"Eh.." sahut Wakana dengan panik.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya cowo itu. Tatapannya sedatar kemarin, begitu dalam sehingga Wakana merasa seolah melihat kegelapan dari matanya.
"M-maaf, aku tidak fokus." sahut Wakana buru-buru menunduk. Dia tidak berani menatapnya. Nafasnya seolah tertahan, dan jemarinya mencengkeram erat lipatan roknya hingga kainnya menjadi kusut.
Melihat Wakana yang panik, cowo itu berjongkok agar pandangan mereka sejajar. "Nama kamu, Wakana, ya?" tanyanya. Kali ini nadanya lebih lembut dari suara tegasnya kemarin.
"I-iya..." jawab Wakana sambil lirih, saat dia memberanikan diri mengangkat wajahnya, pandangan mereka bertemu. Dia merasakan sesuatu yang aneh, cowo itu tersenyum padanya. Matanya tidak segelap sebelumnya, tergantikan binar... lembut dan khawatir.
"K-kenapa kamu tau namaku?" jantungnya mulai berdegup lebih kencang dari biasanya, tapi cengkraman tangannya masih tidak melonggar sama sekali.
"Karena-"
"AZUKA!! KAMU NGAPAIN KE WAKANA, HAH??!!"
Sebuah lengkingan memutus kalimat cowo itu. Tiba-tiba, seorang gadis muncul dan langsung menjewer telinga si cowo. Wajah gadis itu merengut dengan mata yang berkilat tajam.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya gadis itu dengan nada tinggi.
"I-iya aku nggak papa, Fuyuka, tolong lepaskan dia," pinta Wakana dengan senyum terpaksa, berusaha menyembunyikan sisa ketakutannya.
Fuyuka melepaskan jewerannya dengan kasar. Sementara, cowo itu hanya meringis tapi tidak mengeluarkan suara kesakitan sama sekali.
"Maaf sudah menakutimu, namaku Shikigami Azuka, dan aku ada di kelas yang sama dengan Hana-"
"SEJAK KAPAN KAMU DIPERBOLEHKAN MEMANGGILKU DENGAN NAMA DEPAN, HAH??"
Potong Fuyuka sambil menginjak kaki Shikigami sekuat tenaga, wajahnya memerah karena kesal. Sementara, Shikigami hanya bisa pasrah, wajahnya mengernyit saat gadis itu terus memarahinya.
Setelah Wakana berhasil menenangkan dirinya, kalo ini dia penasaran kenapa Shikigami dan Fuyuka terlihat begitu dekat.
"Apa kalian memang sedekat itu?" tanya Wakana, kalimat itu meluncur seketika dari mulutnya.
"Tidak!" sahut Fuyuka.
"Tentu!" sahut Shikigami.
◇ ◇ ◇
Di saat yang sama. Mizuki yang baru saja bangun. Matanya membelalak seketika saat melihat jam tepat pukul 7.30. Ini pertama kalinya dia bangun kesiangan. Tanpa membuang waktu, dia mengambil seragamnya dan mengenakannya dengan gerakan yang terburu-buru.
Lalu menyambar setumpuk roti, kemudian mengambil dua lembar roti yang di atas mejanya. Jemarinya mengoleskan selai stroberinya seadanya-tidak merata, bahkan beberapa bagian kosong, sebelum dia menutupinya dengan lembar roti yang lain.
Akibat panik, kakinya sampai tersandung tepat di pintu apartemennya. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia menarik gagang pintu, lalu menguncinya dengan rapat. Di sana terpasang label kecil di dinding samping pintu nya.
Kamar No.13, Mizuki Kai.
◇ ◇ ◇
Sementara itu, Wakana yang sudah berada di kelas, tanpa sadar. Menoleh dan matanya tertuju ke meja Mizuki yang masih kosong. Mengingat kejadian memalukan yang dia lakukan kemarin: membuat pipinya kembali memanas.
Izumi yang baru saja tiba. Dia seolah menyadari arah tatapan sahabatnya. Lalu, melangkah mendekat perlahan, sampai-sampai tas beruang yang di pakai Izumi dan aksesoris imut yang tergantung, ikut bergoyang pelan seiring dia melangkah.
Seketika senyuman jahil tersungging di wajah Izumi, seolah tahu apa yang harus dia lakukan. Dalam sekejap mata, dia memeluk Wakana dari belakang yang sedang asik melamun.
Wakana tersentak seketika, lalu menoleh dengan cepat. Saat menoleh, dia mendapati jika pelakunya adalah Izumi. Wajahnya kini sudah dihiasi dengan senyum jahil sepenuhnya.
Wakana yang tidak tahan dengan tingkah usil Izumi. Dia segera berdiri lalu mencubit kedua pipinya. Dahinya mengerut, menunjukkan kekesalannya lalu perlahan memudar. Tergantikan senyuman yang tersungging dari sudut bibirnya.
"Lijia... kamyu kenapa liyat meja Misuki truss??" tanya Izumi. Suaranya terdengar lucu dan tidak jelas. Disaat Wakana menarik-narik kedua pipinya
"...Kenapa ya~" jawab Wakana. Senyum hangat muncul diiringi dengan rona merah tipis yang merambat bawah matanya, "...Rahasia." tambahnya.
"Cwurang! hmphh!" Izumi memalingkan pandangannya dengan bibir mengerucut, meskipun merasa kesal karena tidak tahu rahasia Wakana.