Kepingan Warna - Bab 4 part 2

905 dilihat
Kaindra Akhdan A.
Ditulis oleh
Kaindra Akhdan A.
Kepingan Warna - Bab 4 part 2

Krinkk!! Krinkk!! Krinkk!!

‎Suara bel berbunyi keras, memecah kesibukan di koridor. Para murid berhamburan; ada yang tersandung karena terburu-buru, ada pula yang tetap melangkah perlahan sambil melanjutkan obrolan. Sementara Wakana masih diam di kursinya: merapikan alat tulis, menunggu guru masuk.

‎Namun, hanya selang beberapa menit, ada suara berderit dari pengeras suara sekolah.

‎"Pengumuman untuk semua murid, silahkan tetap di kelas masing-masing, lalu belajar mandiri. Dikarenakan adanya rapat mendadak yang dilakukan pagi ini." ujar suara di balik pengumuman itu.

‎Izumi yang baru saja mendengar pengumuman itu, lalu berjalan ke arah Wakana di ikuti oleh teman-temannya.

‎"Lizia, kamu mau ikut ke kantin?" ajak Izumi. Sementara, teman-temannya berada tepat di belakangnya.

‎Wakana menoleh, lalu beberapa saat menggeleng pelan, "Maaf ya... aku nggak bisa ikut."

‎"...Oke!" Izumi, lalu membentuk angka nol dengan jari mungilnya: sebagai tanda setuju. Sebelum berlari kecil menyusul teman-temannya, lalu perlahan menghilang di koridor.

‎"..." Wakana menghela nafas lega. Dia menikmati keheningan yang perlahan menyelinap ke dalam kelas. Matanya menatap langit yang mulai cerah, diiringi suara samar kicau burung menghiasi pagi.

‎"Mizuki... tidak masuk ya?" gumamnya sambil menoleh ke bangku kosong di sebelahnya.

‎Sementara itu, murid-murid lain sudah berada di luar kelas: ada yang membaca buku di perpustakaan, dan ada juga yang sedang bermain di taman sekolah bersama teman-temannya.

‎Di saat yang sama, Wakana mulai menguap karena bosan. Lalu tanpa pikir panjang beranjak dari bangkunya, kemudian duduk di bangku milik Mizuki. Bangku itu ada di pojok kelas, membuat tempat itu adalah tempat paling nyaman di kelas.

‎Hembusan angin lembut dari jendela memainkan helaian rambut panjangnya yang tergerai. Suasana yang begitu tenang dan nyaman perlahan membuat kelopak matanya terasa berat.

‎Wakana lalu menaruh pipinya di atas meja, dan memandangi langit sebelum matanya terpejam membuatnya tidur dengan tenang.

‎Disisi lain, Mizuki baru saja tiba di gerbang sekolah. Dia mengerutkan keningnya karena tidak ada satpam yang berjaga.

‎Tanpa pikir panjang, Mizuki berlari masuk ke sekolah dengan cepat, mengerahkan semua sisa tenaganya. Tapi, rasa heran kembali muncul: karena banyak murid-murid yang justru bermain di taman atau berjalan menuju perpustakaan alih-alih berada di kelas.

‎Tak lama kemudian, Mizuki tiba di depan kelasnya, lalu menghela nafas panjang seolah lega karena tidak terlambat. "Sudah pukul delapan lebih dua menit..." gumamnya, saat melihat jam tangan di lengan kirinya.

‎Srett!!

‎Mizuki menggeser pintunya, namun langkahnya seketika terhenti. Saat melihat Wakana tertidur di atas mejanya: gadis itu terlihat tidur dengan nyaman. Cahaya matahari pagi yang hangat menyentuh wajah polosnya, sementara angin sejuk dari jendela sesekali menyibak rambutnya.

‎Mizuki yang menyaksikan pemandangan itu, membuatnya menelan ludah dengan susah payah. Tanpa dia sadari senyum tipis mulai tersungging di sudut wajahnya, tepat saat melangkah masuk ke kelas tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

‎Setelah berfikir sejenak, Mizuki akhirnya memilih duduk di bangku Wakana.

‎Sesekali Mizuki menoleh memperhatikan wajah polos Wakana yang sedang tidur. Sambil duduk di bangku Wakana, dia terus membaca bukunya. Membiarkan gadis itu tetap terlelap di bangku miliknya.

‎Beberapa jam kemudian, pelajaran pertama dimulai. Namun, Wakana masih terlelap di bangku Mizuki. Sementara itu, guru dan murid lain yang masuk seolah sepakat untuk tidak mengganggunya. Wajahnya terlihat begitu lelah dan tenang sehingga siapa pun tidak tega untuk membangunkannya, termasuk Izumi.

‎Pada akhirnya, lengkingan bel istirahat yang berhasil membuat Wakana bangun. Dia mengedipkan matanya malas, mencoba mengusir sisa kantuk yang masih ada. Lalu, menatap sekelilingnya dengan dahi berkerut; kelas sudah kosong, hanya ada dirinya dan-Mizuki yang duduk di samping Wakana. Sementara, Izumi dan murid lain sudah menghilang entah ke mana.

‎Wakana berkedip cepat saat menyadari dirinya, masih duduk di kursi Mizuki. Saat menoleh ke arah Mizuki, dia sedang membaca buku.

‎Mizuki yang menyadari Wakana sudah bangun, dia menoleh sekilas dengan tatapan yang sulit dibaca. Lalu, buru-buru memalingkan wajahnya dan kembali membaca buku.

‎"Selamat pagi, Mizuki." sapa Wakana lirih. Suaranya terdengar goyah dan sedikit bergetar.

‎Mizuki kembali menoleh. Meskipun tatapannya masih sedatar biasanya, tapi kali ini binar tipis muncul di matanya saat Wakana memperhatikan yang berusaha sadar.

‎"...Selamat siang," jawab Mizuki singkat.

‎"Siang... Eh?" Wakana tersentak. Dia merasakan jantungnya mulai berdegup lebih kencang dari biasanya.

‎"Ya."

‎Wakana seketika membeku. Rasa panas mulai merambat naik ke wajahnya, sementara telapak tangannya mendadak terasa lembap oleh keringat dingin. "Sekarang... jam ke berapa?" tanyanya dengan nada tertahan.

‎"Jam istirahat ke satu."

‎Wakana menatap Mizuki dengan raut wajah yang cemberut bercampur rona merah di pipinya. "Mizuki... kenapa tidak membangunkanku?"

‎"...Karena wajahmu seperti mengatakan jika kamu sedang lelah," kata Mizuki jujur, tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

‎"Kamu menatapku saat aku tidur??" seru Wakana. Kali ini rona merah merambat memenuhi wajahnya.

‎"..." Mizuki terdiam. Tanpa mengatakan apa-apa, jemarinya mulai membalik halaman buku dengan cepat. Seolah mencoba fokus pada deretan tulisan yang sebenarnya dia pahami.

‎"Mizuki... kamu dengar ak-"

‎"Yoo, Mizu-"

‎Kalimat Wakana terputus oleh seruan Fujiwara yang tiba-tiba muncul di pintu. Dia mengangkat satu tangannya, berniat menyapa, namun gerakannya mendadak terhenti saat melihat posisi mereka yang hanya berduaan di dalam kelas.

‎Pandangan Fujiwara berpindah-pindah antara Wakana yang wajahnya merah padam dan Mizuki yang balas menatap Fujiwara. Lalu, seringai jahil muncul di bibirnya.

‎"Oh, oke. Selamat bersenang-senang," ujar Fujiwara singkat, lalu segera memutar kakinya untuk melangkah pergi.

‎"Ren!! kau salah paham!" seru Mizuki dengan nada yang tinggi, suaranya bergema di kelas yang sepi.

‎"Ya, aku tau. Berjuanglah, Kai!" sahut Fujiwara tanpa menoleh. Langkah kakinya terdengar menjauh dengan cepat di sepanjang koridor, meninggalkan Mizuki dan Wakana yang terjebak dalam suasana canggung yang jauh lebih terasa dari sebelumnya.

Sementara itu, waktu seolah melambat, tidak seperti biasanya. Keheningan di dalam kelas membuat detak jam dinding terdengar; bahkan, jantung pun terasa berdegup jauh lebih kencang daripada seharusnya.

‎"...Mizuki." ucap Wakana sambil mencengkram roknya, berusaha memecah keheningan.

‎Mizuki menoleh dengan perlahan, tertegun sejenak. Lalu, memalingkan pandangannya saat mengetahui wajah Wakana penuh dengan rona merah.

‎Di saat Wakana melihat Mizuki tidak mengatakan apa-apa, dia melepaskan cengkeramannya lalu mengepalkan tangannya. "MIZUKI!!" bentaknya.

‎"A-apa?" ucapnya, meski kali ini suaranya sangat rendah; bahkan suara detak jam dinding lebih keras dari suara Mizuki.

‎"Kamu melihatku saat tidur kan?" tanya Wakana. Suaranya terdengar gemetar dan terbata-bata.

‎Mizuki yang awalnya tenang, mendadak mengerutkan keningnya. Saat melihat Wakana menatap lantai, dan kepalan tangannya mengendur. "Ya."

‎"..." Seketika itu Wakana mengangkat kepalanya, menatap mata Mizuki dengan tajam. "Lupakan itu, kumohon!"

‎"..." Mizuki tidak menjawab, dan tetap diam.

‎Wakana tahu itu tidak mungkin, tapi tetap saja ingin mencoba. Bisa saja Mizuki berusaha melupakan hal itu, di saat Wakana tertidur dengan pulas... di bangku Mizuki... dan Mizuki ternyata juga melihat Wakana... Tapi dia juga tidak membangunkannya, malah membiarkan gadis tidur di bangkunya.

"Saat aku memikirkannya, membuatku tidak tenang..." gumam Wakana, dia masih menatap tajam ke Mizuki. Berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rona merah di wajahnya.

‎"Wakana... maaf, aku tidak mungkin melupakannya." katanya, lalu Mizuki melangkah keluar kelas. Meninggalkan Wakana, menuju ke perpustakaan dengan binar di matanya.

‎"Menyebalkan!!!"

◇ ◇ ◇

‎Di sisi lain, Fujiwara tengah melangkah santai menyusuri koridor sekolah. Seketika, langkahnya mendadak terhenti saat berpapasan dengan Kaguya. Gadis itu nampak mendekap tumpukan buku yang begitu tinggi, sehingga wajahnya benar-benar tersembunyi di balik tumpukan kertas itu jika dilihat dari depan.

‎Fujiwara yang merasakan hawa aneh dari gadis itu. Saat, dia bersiap menghindarinya, tubuhnya mendadak menegang.

‎"Ahh, Ren? boleh tolong aku?" lirih Kaguya, suaranya terdengar begitu lembut, namun justru suara itulah yang membuat Fujiwara bergidik ngeri.

‎"Ahaha... tentu," jawab Fujiwara dengan senyum kecut yang dipaksakan.

‎Dengan langkah enggan, dia mendekati Kaguya, lalu mengambil alih tumpukan buku di lengan gadis itu dengan sangat hati-hati-meski sebenarnya dia melakukannya dengan terpaksa.

‎"Terima kasih, Ren." ucap Kaguya singkat. Dia melangkah mendahului Fujiwara tanpa menoleh lagi. "Ayo ikut aku," tambahnya, memberi ajakan yang tidak bisa disangkal oleh Fujiwara.

‎Mereka berdua melangkah santai menyusuri koridor, melewati deretan kelas yang sepi karena sebagian besar murid masih berada di kantin. Beberapa saat kemudian, langkah mereka terhenti di depan sebuah ruangan yang terlihat lebih besar dari kelas. Di atas pintu itu, tergantung papan nama kayu bertuliskan:

Ruang OSIS.

‎Begitu melangkah masuk, mereka sudah sambut oleh suasana ruangan yang tertata rapi. Lemari buku terisi penuh dengan susunan sempurna, sementara tirai jendela yang bersih; melambai pelan seolah baru saja dipasang. Di salah satu sisi dinding, terpampang papan struktur anggota:

Ketua: Kaguya Aoi, Wakil Ketua: Fujiwara Ren, Sekretaris: ...

‎Kaguya berhenti tepat di depan meja yang cukup besar, dihiasi tanaman kecil di pot menambah estetika. "Ren, kamu taruh disini saja ya," Kaguya memberi isyarat dengan menunjuk meja.

‎Fujiwara menghela napas panjang, lalu perlahan menurunkan tumpukan buku tebal dari lengannya ke meja dengan suara debum pelan.

‎"Jadi apa sudah selesai?" tanya Fujiwara sambil meregangkan otot lengannya yang kaku.

‎"Ya, sudah selesai."

‎"Aoi, apa tidak ada hadiah untukku?" goda Fujiwara dengan cengiran lebar menghiasi wajahnya.

‎"Hmm... aku ada tuga-"

‎"Oke. Selamat tinggal!" potong Fujiwara. Dia langsung berlari secepat kilat, melewati pintu sebelum Kaguya sempat memberinya tugas tambahan. "Semangat, Aoi!" serunya dari koridor, suaranya terdengar samar dan perlahan menjauh seiring langkah kakinya yang cepat.