Kepingan Warna - Bab 5 part 1

Selasa, 02 Juni.
Fujiwara berlari kecil menyusuri koridor, menjauh secepat mungkin dari tugas yang ingin diberikan Kaguya. Di dalam ruang OSIS, Kaguya hanya bisa tersenyum tipis sambil memerhatikan punggung wakilnya itu menghilang di balik pintu. Pemandangan itu seolah menjadi rutinitas harian yang sudah biasa baginya.
Sementara itu, keheningan kembali merayap di kelas 8-B. Suasana yang kaku, mampu membuat siapa saja terdiam. Mizuki baru saja datang dari arah perpustakaan, mendadak diam di tempat. Wakana, dia sedang menatap langit-langit kelas, tanpa bergerak sedikitpun.
Tanpa ragu, Mizuki mendekatinya. Perlahan tapi pasti, tanpa bersuara.
"Wakana," panggil Mizuki pelan. Suaranya rendah, matanya berbinar cerah seiring mendekat ke Wakana
"...Iya?" sahut Wakana lirih. Lumayan terkejut dengan kedatangan Mizuki.
"Kamu... kenapa melamun?"
"..."
Wakana terdiam. Bibirnya tertutup rapat dan nafasnya tertahan, seolah tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Alih-alih menjawab, dia memalingkan wajahnya dengan gerakan cepat yang mendadak, berusaha menghindari Mizuki dengan sesegera mungkin.
"Kau yang membuatku seperti ini, Mizuki!!" gumam Wakana.
"Mizuki, kenapa?"
Mizuki lalu duduk di bangkunya, diam sejenak, "...Maksudmu?"
"Kenapa kamu tidak membangunkanku!!" seru Wakana. Nadanya agak tinggi, dengan wajah merona merah muda.
"...Karena kamu terlihat lelah." jawab Mizuki singkat. Tapi, sebuah senyum tersungging samar di sudut wajahnya.
Tok!! Tok!! Tok!!
Ketukan pelan di pintu kelas mendadak, membuat obrolan mereka terhenti seketika. Kaguya berdiri di ambang pintu, matanya beralih dari Mizuki ke Wakana. Dia sempat terdiam sejenak, seolah menangkap getaran aneh dan suasana yang terasa manis di antara mereka berdua.
"Mizuki, Wakana?" sela Kaguya lembut. Wajahnya tampak polos, tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun karena telah merusak momen itu. "Apa kalian melihat Ren?"
Wakana yang tadi nafasnya sempat cepat, kini bahunya sedikit tenang atas kehadiran Kaguya yang mendadak. Tapi, sebelum ada yang sempat berbicara, Izumi tiba-tiba muncul dari koridor dengan langkah riang. Mendadak terhenti saat melihat sosok gadis yang tidak asing berdiri di depan dirinya.
"Ketua?!" Izumi berseru dengan antusias. Lalu, berlari kecil, memeluk Kaguya dengan erat tanpa ragu sama sekali.
"Eh.. Kana? apa kabar?" tanya Kaguya ramah, membalas pelukan hangat itu dengan senyum kecil.
"Baik! kalo ketua?"
"Aku juga."
Sementara itu, di tempat yang jauh dari keramaian koridor, Fujiwara justru sedang duduk santai di sofa ruang OSIS.
"Syukurlah aku melihatnya pergi, hahaha." gumam Fujiwara sambil menyandarkan punggungnya dengan nyaman, saat melirik papan struktur anggota yang tertempel di dinding. Senyum cerah tersungging di bibirnya saat membaca barisan nama di sana:
...Wakil ketua: Fujiwara Ren, Sekretaris: Izumi Kana, ...
"Tapi, tugasnya belum selesai sepertinya... dan yang paling penting itu bukan urusanku, haha.”
◇ ◇ ◇
Kelas 8-D. Fuyuka Hana, duduk dengan tenang menyandarkan punggungnya di kelas yang sepi. Jemarinya membalik halaman buku yang dipenuhi deretan tulisan rapi. Namun, ketenangan itu mendadak sirna saat bayangan seseorang menutupi cahaya lampu di depan mejanya.
Shikigami Azuka sudah duduk di bangku, menghadap Fuyuka. Dia menopang dagunya menutupi buku yang sedang dibaca Fuyuka, lengkap dengan seringai menggoda yang menjadi ciri khasnya.
"Azuka! Pergi!," tanya Fuyuka. Suaranya datar, menyimpan nada kesal yang tertahan. Sorot matanya tajam, tidak peduli dengan keberadaan Shikigami.
"...Tidak, ingin menatap wajah gadis yang cuek ke semua cowo. Selain pemilik nama Azuka." jawab Shikigami. Seringainya semakin lebar, dan binar di wajahnya nampak lebih cerah dari biasanya.
"...Hentikan itu, Aku muak." gerutu Fuyuka. Kalimatnya terdengar pelan dan putus-putus, seiring dengan cengkeramannya yang menguat pada pinggiran buku.
"Jangan cemberut, nanti cantiknya hilang," goda Shikigami lagi, tidak membiarkan Fuyuka membuka bukunya. "Hana, apa aku boleh membaca bukumu?"
"SHIKIGAMI AZUKA, aku peringatkan k-"
"Shhtt... diam."
Kalimat Fuyuka terputus seketika. Saat Shikigami bergerak dengan cepat, membungkam bibir gadis itu dengan telapak tangannya.
Fuyuka terdiam, mendadak kaku karena tindakan berani itu. Nafasnya tercekat saat jarak mereka mengikis. Perlahan, semburat rona merah mulai merambat naik, memenuhi pipi hingga telinganya. Matanya mulai berkaca-kaca, memancarkan perpaduan antara rasa malu yang luar biasa dan kesal yang mendalam.
"Oke.. dia sudah pergi," gumam Shikigami sambil melirik ke arah koridor, dengan tangan yang masih menutup bibir Fuyuka.
Beberapa detik kemudian, Shikigami akhirnya sadar. Melepas tangannya yang membungkam mulut Fuyuka. Sementara, Fuyuka sudah merona sangat merah dan air matanya seolah jatuh sedari tadi.
"M-maaf, Hana. Tadi ada guru lewat," ucap Shikigami dengan terbata-bata.
"...Bodoh!”