Kepingan Warna - Bab 5 part 2

775 dilihat
Kaindra Akhdan A.
Ditulis oleh
Kaindra Akhdan A.
Kepingan Warna - Bab 5 part 2

Sementara, Fujiwara masih santai bermain ponselnya, duduk di sofa empuk di ruang OSIS. Menikmati suasana tenang di ruangan itu. Suara kipas angin berputar pelan, ditemani kicauan burung dari sangkar yang tergantung di sudut ruangan. Sudah seperti kewajiban sehari-hari, untuk menenangkan mental dan pikirannya.

‎Krinkk!! Kururing~

‎Mendadak ponsel Fujiwara tiba-tiba bergetar, muncul notifikasi panggilan yang seketika memenuhi layarnya. Kaguya Aoi, nama itu tercantum di panggilan.

‎"Woah.. A-aoi??, waduhh," panik Fujiwara. Satu tangannya menggaruk belakang kepalanya.

‎Disisi lain, di kelas 8-B, Kaguya sedang ada di kelas itu. Dia mengusir Mizuki ke sisi pojok lain kelas. Kini, Kaguya bersama Izumi, dan Wakana. Sambungan panggilan tersambung beberapa detik kemudian.

‎"H-halo?" tanya Fujiwara. Suaranya pelan, dan nadanya terdengar naik-turun secara kasar.

‎"Ya. Aku ada permintaan! cepatlah ke kelas 8-B!!!"

‎Tuutt!! Tutt!!

‎Ujar Kaguya kepada Fujiwara tanpa kesempatan bersuara sama sekali, diikuti bunyi panggilan ditutup setelahnya.

‎"...Mizuki, jangan libatkan aku di hubungan asmaramu. Badjingan kau!!" ujar Fujiwara di ruangan itu, membuat kicau burung berhenti seketika.

‎Beberapa detik kemudian, Fujiwara menghela nafas berat, lalu mengucapkan selamat tinggal pada ruangan nyaman itu. Dia melangkah dengan enggan ke pintu keluar, menoleh sekali lagi ke sofa itu dan akhirnya meninggalkan ruangan itu sepenuhnya.

‎Di koridor, Fujiwara melangkah perlahan. Dia nampak tenang dan damai, tapi tidak dengan isi kepalanya yang memaki-maki Mizuki, karena mengganggu momen bersantainya yang jauh lebih penting dari apapun.

‎Saat Fujiwara melewati tangga, tanpa sengaja mendapati seorang cowo yang sedang linglung, berjalan bolak-balik di depan sebuah kelas 1-E. Tanpa banyak berpikir Fujiwara mendekati cowo itu, karena sudah tugas OSIS untuk membantu siswa.

‎Tubuhnya menjulang tinggi, dengan otot yang terlihat kekar di balik seragamnya. Rambutnya berantakan, dengan poni tipis yang jatuh di dahinya.

‎"Ada yang bisa ku bantu?" tanya Fujiwara. Dia melangkah mendekat, satu tangannya berada di saku celana, sedangkan tangan lainnya melambai ramah.

‎"...Iya terima kasih, namaku Korosi Tatsuya." jawab cowo itu dengan senyum ramah, suaranya tegas dan berat. Ada sedikit aura berwibawa yang tidak umum di anak seusianya. "Boleh beritahu aku, dimana kelas 1-E?" tambahnya.

‎Seketika itu, yang sebelumnya Fujiwara tersenyum ramah ke cowo itu beralih ke senyum masam dan tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ternyata dia sebodoh itu," gumamnya pelan.

‎"Namamu Tatsuya kan? sebelum berangkat pastikan matamu baik baik saja. Tapi, kelasmu tepat di depanmu," jawab Fujiwara dengan menghela nafas berat.

‎"Eh..." cowo itu terdiam beberapa detik, menyadari betapa bodohnya dia.

‎"...Maafkan aku, ..."

‎Fujiwara mengernyit, sebelum mengatakan namanya dengan malas, "Fujiwara."

‎"M-maafkan aku, Kak Fujiwara.. Terima kasih," cowo itu kemudian melangkah masuk ke kelas di depannya itu dengan cepat, seolah itu hal yang memalukan baginya.

‎"Kenapa aku sangat sial hari ini," gumam Fujiwara, meratapi nasibnya yang malang.

◇ ◇ ◇

‎Di sisi lain, di pojok kelas 8-B. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Izumi dan Wakana yang sedang ngobrol, Kaguya yang sedang nampak menunggu seseorang, dan Mizuki sedang berada di pojok sisi lain kelas. Karena cowo sendirian.

‎"Ren? Kamu lama banget dah," ujar Kaguya. Bibirnya cemberut, tangannya berkacak pinggang saat menatap Fujiwara yang baru saja datang.

‎"Jadi, kamu memanggilku untuk apa?" jawab Fujiwara. Ekspresi seolah kesal dengan tatapan datar dan helaan nafas pelan.

‎Kaguya terdiam sejenak, jemarinya menopang dagunya seolah memikirkan jawaban dengan keras, "Mizuki."

‎"Aku ingin kamu temani dia saja, hanya itu." minta Kaguya, sorot matanya seolah memberikan jawaban jika ini bukan hal yang mudah.

‎"...H-hanya itu? Lebih baik aku nggak datang saja tau gitu"

‎"Kumohon. Aku minta tolong ya, Ren."

‎Fujiwara menghela nafasnya, "...Tapi, aku nanti dapa-"

‎"Aku nanti kasih hadiah, tapi rahasia~" sela Kaguya. Menampilkan ekspresi imut dengan satu mata terpejam dan jari telunjuk tepat di depan bibirnya.

‎"..."

‎Sementara Fujiwara, hanya bisa tertegun sejenak oleh tingkah Kaguya yang baru saja terasa... IMUT!!. Dia menghela nafas pendek, sebelum akhirnya mengangguk setuju.

‎"Oke." kali ini, Kaguya tersenyum manis, kedua matanya terpejam. Ekspresi itu jarang dia tunjukkan kepadanya. Seolah memberi tahu jika dia, sedang bahagia.

◇ ◇ ◇

‎Kemudian, Fujiwara melangkah perlahan ke pojok kelas, mendekati Mizuki yang sedang membaca buku tebal sambil duduk di kursinya dengan tenang.

‎"Mizuki Kai," sapa Fujiwara seperti biasa

‎Mizuki, menoleh pelan dan diam tanpa berbicara sepatah apapun. Alih-alih menjawab sapaan Fujiwara

‎Fujiwara mengernyit, "Hey, sialan. Jangan libatkan aku dalam hubungan asmaramu!"

‎"Apa maksudmu?"

‎"Hah? karena kau, aku sial hari ini kau tau."

‎"Hufhh... jadi? kamu melakukan apa ke Wakana?" tambah Fujiwara dengan nada kesal.

‎"Bukan urusanmu." jawab Mizuki singkat dan datar. Tatapannya kembali ke bukunya, seolah percakapan itu tidak penting sama sekali untuknya.

‎"Badjingan kau," gumamnya pelan. Fujiwara menyerah dengan perbuatan Mizuki yang seperti itu.

‎Lalu, Fujiwara duduk tepat di depan meja Mizuki. Menoleh pelan ke arah Mizuki yang ada di depannya, matanya mencari tau ekspresi yang ada di wajahnya. Namun, yang dia dapat hanyalah tatapan datar ke arah buku yang dia baca. Tapi... ada binar samar di matanya.

‎"Mizuki, gadis itu memang seperti itu."

‎"Apa maksudmu?" Mizuki spontan menoleh ke arah Fujiwara yang menatap langit-langit kelas, dan sesekali mencuri pandang ke arah tiga gadis yang sedang bercengkrama satu sama lain.

‎"Ya, kau tahu?" Fujiwara menghela nafas pendek, lalu menoleh ke arah Mizuki yang sedang mengernyit. "Mereka itu sulit sekali untuk mengungkapkan perasaannya." tambah Fujiwara.

‎"Ya aku tahu itu."

‎Mizuki sudah tahu itu sejak awal, tapi bukannya dia memang sengaja tidak menamai perasaan yang di alaminya sekarang. Tapi dia sedang mencari kata yang tepat untuk nama perasaan itu.

‎"Fujiwara, apa kau dekat dengan Kaguya?" tanya Mizuki.

‎"Yah... aku dan dia memang teman masa kecil. Jadi itu normal." jawabnya.

‎Fujiwara merasakan jika Mizuki tertarik dengan hubungan mereka, karena itu juga dia secara spontan mengatakan yang sejujurnya.

‎"Kadang juga, dia akan bermanja jika galau. Jika dia kesal akan membanting buku ke meja. Tapi, kau akan ada waktunya sendiri." tambah Fujiwara.

‎Mizuki nampaknya tertarik oleh hal yang di katakan Fujiwara. Matanya berbinar tipis meskipun seolah tidak peduli, tapi senyum tipis di wajahnya menunjukkan hal berbeda.

‎"Ren~"

‎Kaguya mengucapkan kata itu tepat di sebelah telinga cowo itu dengan pelan, Seketika itu, Fujiwara mendadak merinding hebat. Dia langsung berbalik cepat.

‎"A-aoi? ada apa?" tanya Fujiwara. Suaranya bergetar dan nafasnya tersengal-sengal.

‎"Kalian ngomongin aku ya?"

‎"Tidak sama sekali, iyakan Mizuki?"

‎"Iya."

Mizuki baru kali ini setuju dengan cepat, seolah terlalu muak dengan suasana yang kaku.

‎Krinkk!! Krinkkk!! Krinkk!!

‎Suara bel menggema di seluruh sekolah itu, menandakan istirahat telah usai. Dan waktunya pelajaran di mulai.

‎"Ayo!" ujar Kaguya, dia dengan cepat menangkap tangan Fujiwara dengan cepat, dan menyeretnya keluar kelas.

‎Sementara Fujiwara melambaikan tangannya ke arah Mizuki, menuruti kemauan Kaguya, mereka melangkah pergi melewati pintu dengan cepat.

‎Mizuki memperhatikan mereka berdua perlahan menghilang meninggalkan kelas. Saat menoleh ke belakang, memperhatikan Izumi dan Wakana yang sudah ada di kursinya masing-masing.

‎Lalu, tanpa pikir panjang, Mizuki kemudian berdiri, dan melangkah menuju kursinya. Sesekali memperhatikan Wakana yang tersenyum, tidak seperti sebelumnya.

‎"Syukurlah," gumam Mizuki.