Skenario Palsu di Bus Kota: Cerita Pendek Tentang Orang Asing yang Menolak Lupa

Bus kota nomor 17 melaju pelan di tengah kemacetan sore hari. Penumpangnya lelah. Sebagian besar menatap layar ponsel. Sebagian lagi memejamkan mata, mencoba tidur sejenak sebelum sampai di rumah.
Di kursi baris ketiga dari belakang, seorang pria paruh baya duduk tegak. Ia mengenakan jaket kain warna abu-abu yang sudah agak pudar. Tangannya memegang sebuah payung hitam tua. Namanya tidak penting, tapi ia membawa sebuah misi yang mengubah sore biasa itu menjadi panggung sandiwara kecil.
Sandiwara Dimulai
Tiba-tiba, pria itu berdiri. Ia tidak memegang gelantungan bus. Ia berdehem pelan, lalu berbicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar seluruh isi bus.
"Perhatian sebentar, kawan-kawan," katanya.
Beberapa kepala terangkat. Wajah-wajah kesal muncul dari balik layar ponsel. Orang-orang mengira ia pengamen atau peminta-minta.
"Hari ini tanggal 12," lanjut pria itu dengan nada tegar. "Saya ingin kita semua bermain peran. Anggap saja bus ini bukan berjalan di jalan raya Jakarta. Anggap saja bus ini sedang melintasi waktu sepuluh tahun yang lalu."
Seorang gadis muda di dekat pintu depan mengernyitkan dahi. Kondektur melirik sekilas dari dekat mesin tiket, lalu kembali acuh tak acuh karena pria itu tidak berteriak marah.
"Skenarionya sederhana," ujar si pria asing sambil melangkah pelan ke tengah lorong bus. "Di luar sana, ada seorang anak kecil yang kehilangan buku gambar terakhirnya karena basah oleh hujan deras. Anak itu menangis di trotoar. Dan kita semua, yang duduk di sini, lewat begitu saja tanpa menoleh."
Reaksi Penumpang
Keheningan aneh melanda bus. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang marah. Udara di dalam kabin terasa lebih berat.
"Hei, Pak! Mau jualan apa sih?" seorang pemuda bertopi hitam bertanya dengan nada sinis. Ia merasa terganggu.
Pria berjaket abu-abu itu menoleh. Ia tersenyum ramah. "Saya tidak jualan, Nak. Saya sedang menyegarkan ingatan kita. Kita terlalu sering lupa pada hal-hal kecil yang menyakitkan bagi orang lain, karena kita terlalu sibuk menyelamatkan diri sendiri dari basah."
Pria itu melanjutkan skenarionya. Ia menunjuk ke arah jendela kaca yang buram oleh embun.
"Coba lihat keluar. Bayangkan ada seorang ibu yang mencari anaknya yang hilang di stasiun. Bayangkan ada tukang becak yang ditipu pembeli dengan uang palsu. Kita melihatnya setiap hari di berita. Lalu kita menekan tombol skip di kepala kita."
Alasan di Balik Skenario Palsu
Seorang wanita paruh baya di sebelah pria itu mulai merapikan tasnya. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak tahu mengapa, tapi kata-kata itu menyentuh sudut hatinya yang paling sepi.
"Kenapa harus membayangkan hal sedih, Pak?" tanya wanita itu pelan. Suaranya bergetar.
Pria itu berhenti melangkah. Ia menatap wanita tersebut lekat-lekat.
"Karena jika kita tidak sengaja melukai ingatan itu dengan kepedulian palsu, kita benar-benar akan menjadi manusia tanpa rasa," jawabnya. "Lupa adalah kemewahan bagi yang bahagia. Tapi bagi yang menderita, lupa adalah pengkhianatan."
Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku jaketnya. Buku itu penuh dengan tulisan tangan rapi. Tanggal, nama-nama tempat, dan jam-jam tertentu. Catatan kecil tentang kejadian-kejadian kecil di jalanan kota yang luput dari perhatian media besar.
Pemberhentian Terakhir
Bus mulai memperlambat lajunya. Suara rem berdecit keras menandakan halte berikutnya telah tiba.
Pria itu melipat buku catatannya. Ia memasukkannya kembali ke dalam saku. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan menuju pintu belakang bus yang mulai terbuka.
"Turun di mana, Pak?" tanya kondektur sekadarnya.
"Di mana saja asal bukan di tempat kita melupakan segalanya," jawab pria itu singkat.
Ia turun ke trotoar basah. Langkah kakinya tenang di tengah kerumunan orang yang bergegas.
Di dalam bus, tidak ada yang langsung kembali bermain ponsel. Mereka duduk dalam diam selama beberapa detik. Gadis muda di depan menatap kaca jendela tempat bayangannya sendiri terpantul. Pemuda bertopi hitam merunduk, meraba layar ponselnya yang mati.
Skenario itu sudah selesai. Tapi ingatan tentang orang asing yang menolak lupa itu tetap tinggal di dalam bus kota yang terus berjalan.