Preview The Devil Wares Prada 2 Apakah Miranda Priestly Masih Relevan di Era TikTok

19.168 dilihat
Sacimi
Ditulis oleh
Sacimi
Preview The Devil Wares Prada 2 Apakah Miranda Priestly Masih Relevan di Era TikTok

Kabar mengenai diproduksinya The Devil Wares Prada 2 langsung mengguncang jagat internet. Setelah hampir dua dekade sejak film pertamanya dirilis pada tahun 2006, sang ratu mode Miranda Priestly (diperankan secara ikonis oleh Meryl Streep) siap kembali ke layar lebar.

Namun, lanskap industri media dan fesyen hari ini sudah berubah total. Tahun 2006 adalah era keemasan majalah cetak, di mana titah seorang editor senior bisa menentukan warna baju apa yang akan digantung di lemari jutaan orang. Sekarang, kita hidup di era TikTok, algoritma, dan influencer digital.

Pertanyaan besarnya: Apakah sosok bos tiran seperti Miranda Priestly masih relevan, atau ia hanya akan menjadi dinosaurus yang gagap teknologi? Mari kita bedah premis, bocoran plot, dan analisis relevansinya di era Gen Z.


Bocoran Plot: Krisis Finansial Runway Magazine

Menurut rumor industri yang beredar, sekuel ini tidak akan menceritakan masa lalu, melainkan langsung melompat ke realitas industri media cetak hari ini yang sedang sekarat.

  • Prahara Finansial: Runway Magazine dikabarkan mengalami penurunan pendapatan iklan yang drastis akibat pergeseran tren ke media digital.

  • Musuh Lama Menjadi Penyelamat: Miranda Priestly terpaksa harus berhadapan dengan mantan asisten pertamanya yang kini menjadi eksekutif sukses, Emily Charlton (Emily Blunt). Emily kini memegang kendali atas dana investasi besar yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan karier Miranda.

  • Kehadiran Andy Sachs: Karakter Andy (Anne Hathaway) dikabarkan juga akan muncul, memberikan dinamika hubungan yang sangat dinanti oleh para penggemar film orisinalnya.


Mengapa Miranda Priestly Terancam di Era TikTok?

Di era modern, kekuatan tidak lagi berada di tangan segelintir elite di balik meja kerja berbahan mahoni. Ada beberapa alasan mengapa posisi Miranda kini sangat rentan:

1. Runtuhnya Monopoli "The Cerulean Sweater"

Ingat monolog legendaris Miranda tentang bagaimana warna biru cerulean dipilih oleh para desainer di ruangan mewah sebelum akhirnya turun ke keranjang diskon tempat Andy membelinya? Di era TikTok, proses itu sering kali terbalik.

Tren estetika seperti Quiet Luxury, Coquette, atau Y2K Core justru lahir dari kreativitas kreator konten amatir dan viral di TikTok sebelum akhirnya diadopsi oleh desainer papan atas. Miranda tidak lagi mendikte pasar; pasarlah yang mendikte Miranda.

2. Budaya Cancel Culture dan Akuntabilitas

Gaya manajemen Miranda yang toxic—meminta asistennya mencari buku Harry Potter yang belum rilis atau terbang menembus badai—tidak akan bertahan seminggu di era sekarang. Di era Gen Z dan Milenial akhir, perilaku seperti itu akan langsung direkam secara sembunyi-sembunyi, diunggah ke TikTok, dan menjadi bumerang bagi perusahaan. Akun-akun pengawas industri seperti Diet Prada akan dengan cepat meruntuhkan reputasi Miranda dalam hitungan jam.


Sisi Lain: Mengapa Miranda Justru Bisa Menjadi "Alpha" di Era Digital

Meskipun terlihat terdesak, meremehkan Miranda Priestly adalah sebuah kesalahan besar. Karakter ini memiliki kualitas yang justru sangat dicari di era digital yang penuh dengan kepalsuan (authenticity deficit).

  • Standar Kualitas yang Mutlak: Di tengah gempuran tren fast fashion murahan yang merusak lingkungan, idealisme Miranda terhadap kualitas pengerjaan (craftsmanship) tingkat tinggi bisa menjadi oase tersendiri.

  • Kekuatan Karisma "Anti-Hero": Netizen TikTok menyukai karakter "Boss Bitch" yang tegas dan kompeten. Jika dikemas dengan tepat, ketegasan Miranda bisa bertransformasi menjadi persona internet yang sangat menjual, mirip dengan bagaimana tokoh-tokoh tegas dunia nyata sering dijadikan meme apresiatif atau ikon feminisme modern.

  • Kemampuan Adaptasi: Jangan lupa, Miranda adalah seorang penyintas di industri yang sangat kejam. Dia tahu cara memanipulasi situasi untuk tetap berada di puncak.


Apa yang Diharapkan dari The Devil Wares Prada 2?

Sekuel ini memiliki potensi besar jika berhasil mengeksplorasi benturan budaya kerja lama dan baru. Kita tentu ingin melihat bagaimana Miranda berinteraksi dengan asisten barunya yang mungkin seorang Gen Z aktif yang menuntut work-life balance dan kesehatan mental.

Menyaksikan Miranda Priestly mencoba memahami istilah-istilah internet seperti "Very demure, very mindful" atau berdebat dengan influencer yang merasa barisan depan fashion show adalah hak mereka, akan menjadi komedi satir yang sangat segar.

Tags: