Sejarah Bentley: Berawal dari Mobil Balap Menjadi Simbol Mobil Mewah Inggris

1.204 dilihat
Kaindra Akhdan A.
Ditulis oleh
Kaindra Akhdan A.
Sejarah Bentley: Berawal dari Mobil Balap Menjadi Simbol Mobil Mewah Inggris

Pernah nggak kalian melihat mobil Bentley dan langsung kepikiran soal kemewahan, interior mewah, serta harga yang selangit? Memang, sekarang Bentley dikenal sebagai salah satu produsen mobil mewah asal Inggris. Tapi kalau melihat sejarahnya, karakter Bentley sebenarnya berawal dari sesuatu yang cukup berbeda. Perusahaan ini justru dibangun dari ambisi Walter Owen Bentley, atau lebih dikenal sebagai W.O. Bentley, untuk membuat mobil yang cepat, kuat, dan mampu bersaing di lintasan. Jadi, sebelum Bentley identik dengan kemewahan seperti sekarang, merek ini lebih dulu membangun namanya lewat mesin, kecepatan, dan balapan jarak jauh.

Walter Owen Bentley lahir pada 1888 dan sejak muda sudah tertarik dengan dunia mekanik. Ia pernah menjalani masa magang di Doncaster Railway Station, tempat ia mulai berhadapan langsung dengan mesin dan pekerjaan teknis. Ketertarikannya kemudian berkembang ke dunia kendaraan bermotor. Sebelum mendirikan Bentley, W.O. juga dikenal karena pengalamannya mengembangkan teknologi mesin pesawat pada masa Perang Dunia I. Pengalaman tersebut ikut membentuk pendekatannya terhadap mesin, terutama dalam mencari performa yang lebih baik.

Setelah perang berakhir, W.O. mulai mewujudkan keinginannya untuk memiliki perusahaan mobil sendiri. Bentley Motors didirikan pada 10 Juli 1919, dengan tujuan yang menurut W.O. cukup sederhana: membuat mobil yang cepat, bagus, dan menjadi yang terbaik di kelasnya. Pada periode awal tersebut, Bentley sudah mengembangkan mobil eksperimental seperti EXP 1 dan EXP 2. EXP 2 kemudian menjadi Bentley tertua yang masih bertahan hingga sekarang sekaligus menjadi Bentley pertama yang memenangkan sebuah balapan, setelah meraih kemenangan di Brooklands pada 1921.


Bentley 3 Litre, 1921.

Model yang kemudian benar-benar membawa Bentley ke dunia produksi adalah Bentley 3 Litre. Mobil ini mulai diproduksi pada 1921 dan menjadi perwujudan pertama dari filosofi W.O. Bentley. Salah satu karakter pentingnya adalah penggunaan mesin empat silinder 3,0 liter dengan sejumlah pendekatan teknis yang cukup maju untuk zamannya. Bentley tidak sekadar ingin membuat mobil yang cepat, tetapi juga mobil yang mampu digunakan untuk perjalanan jauh dengan daya tahan tinggi.

Menariknya, Bentley pada awalnya bahkan belum terlalu yakin dengan balapan 24 Hours of Le Mans. Ketika John Duff membawa Bentley 3 Litre ke Le Mans pada 1923, W.O. sempat menganggap balapan selama 24 jam itu terlalu berat untuk sebuah mobil. Namun, hasil balapan tersebut justru membuat pandangannya berubah. Bentley 3 Litre finis di posisi keempat sekaligus mencatat lap tercepat. Setahun kemudian, John Duff dan Frank Clement kembali ke Le Mans dengan dukungan Bentley dan berhasil memenangkan balapan tersebut. Itulah kemenangan pertama Bentley di ajang Le Mans.

Dari sinilah muncul kelompok yang kemudian dikenal sebagai Bentley Boys. Mereka merupakan para pengusaha, pembalap, petualang, dan pemilik Bentley yang ikut membangun citra perusahaan pada era 1920-an. Bentley tidak hanya menang karena mobilnya, tetapi juga karena para pengemudinya memiliki semangat kompetitif yang kuat. Dalam delapan tahun, Bentley berhasil meraih lima kemenangan di Le Mans pada era tersebut, termasuk kemenangan pada 1924, 1927, 1928, 1929, dan 1930.

Salah satu mobil yang paling terkenal dari masa tersebut adalah Bentley Speed Six. Mobil ini merupakan versi berperforma tinggi dari Bentley 6½ Litre dan menjadi salah satu mobil balap paling sukses dalam sejarah awal Bentley. Speed Six berhasil memenangkan Le Mans pada 1929 dan 1930. Pada kemenangan 1930, dua Bentley Speed Six bahkan finis di posisi pertama dan kedua setelah bertarung dalam kondisi balapan yang sangat ketat.


Bentley Speed Six, 1926.

Selain Speed Six, ada juga Bentley 4½ Litre Blower yang sangat terkenal. Mobil ini muncul karena perbedaan pandangan antara W.O. Bentley dan pembalap Sir Henry “Tim” Birkin. W.O. lebih percaya bahwa tenaga sebaiknya diperoleh melalui kapasitas mesin yang lebih besar, sedangkan Birkin ingin memanfaatkan supercharger untuk meningkatkan performa. Hasilnya adalah Blower, Bentley bermesin supercharged yang kemudian menjadi salah satu mobil paling ikonik dari era Bentley Boys.

Namun, kejayaan di lintasan ternyata tidak otomatis membuat kondisi keuangan Bentley aman. Pengembangan mobil berperforma tinggi membutuhkan biaya besar, sementara perusahaan juga menghadapi persoalan keuangan. Pada 1926, pengusaha sekaligus penggemar Bentley, Woolf Barnato, menyelamatkan perusahaan dan mengambil alih kepemilikannya, sementara W.O. tetap menjabat sebagai direktur. Bentley sempat mencatat keuntungan pada 1929, tetapi datangnya Great Depression dan besarnya biaya pengembangan kembali membuat perusahaan mengalami kesulitan. Pada Juli 1931, Bentley akhirnya bangkrut.

Kebangkrutan tersebut membawa perubahan besar. Pada 1931, Rolls-Royce membeli Bentley Motors dengan nilai £125.275. Setelah akuisisi itu, produksi Bentley berpindah dari Cricklewood ke Derby. Era ini kemudian dikenal sebagai masa Derby Bentley, ketika Bentley mulai semakin dekat dengan teknologi dan pengembangan Rolls-Royce.

Masalahnya, identitas Bentley sebagai mobil yang berorientasi pada performa perlahan menjadi semakin samar. Selama beberapa dekade berikutnya, Bentley banyak berbagi dasar teknis dengan Rolls-Royce. Kondisi tersebut membuat karakter Bentley yang dulu begitu kuat di dunia balap menjadi kurang menonjol. Meski begitu, nama Bentley tetap dipertahankan sebagai bagian dari jajaran mobil mewah perusahaan tersebut.

Pada 1938, fasilitas di Crewe dibangun. Awalnya, lokasi tersebut digunakan untuk memproduksi mesin pesawat Merlin dan selama periode 1938 sampai 1946 menghasilkan 26.065 mesin. Setelah Perang Dunia II berakhir, produksi mobil Bentley dimulai di Crewe pada 1946. Model pertama yang lahir dari era pascaperang tersebut adalah Bentley Mark VI.

Bentley kemudian mulai memasuki era baru dalam desain grand tourer. Salah satu tonggak terbesarnya adalah R-Type Continental yang diperkenalkan pada 1952. Mobil ini dirancang agar mampu melaju cepat dalam perjalanan jarak jauh di jalan-jalan Eropa. Dengan bodi ringan dan aerodinamis serta mesin yang menghasilkan 153 bhp, R-Type Continental mampu mencapai kecepatan sekitar 115 mph dan tetap nyaman untuk cruising pada kecepatan tinggi. Produksinya hanya mencapai 208 unit.


R-Type Continental, 1952.

R-Type Continental juga memperlihatkan kuatnya hubungan Bentley dengan dunia coachbuilding. Pada masa itu, mobil bisa dibuat menggunakan chassis dan drivetrain dari pabrikan, sementara bodi serta interiornya dibuat oleh coachbuilder khusus. Salah satu nama penting dalam sejarah tersebut adalah H.J. Mulliner. Mulliner bahkan sudah membuat lebih dari 240 bodi untuk Bentley pada era 1920-an, sebelum hubungan keduanya semakin dekat dan Mulliner akhirnya menjadi bagian dari Bentley pada 1959.

Memasuki 1960-an, Bentley mulai memasuki bentuk yang lebih modern. Pada 1965, Bentley T-Series diperkenalkan sebagai pengganti S-Series. Mobil ini menggunakan konstruksi monocoque dan menjadi salah satu langkah penting dalam modernisasi Bentley di Crewe. T-Series kemudian menjadi salah satu Bentley paling laris pada masanya dan diproduksi dalam berbagai varian selama sekitar 15 tahun.

Tahun 1980 menjadi titik penting lainnya. Vickers mengambil alih Rolls-Royce Motor Cars dan mulai melihat potensi Bentley yang sebelumnya kurang dimanfaatkan. Kebangkitan itu kemudian ditandai dengan hadirnya Bentley Mulsanne pada 1980, yang mengambil nama dari lintasan lurus Mulsanne di Le Mans. Dua tahun kemudian, Mulsanne Turbo muncul dengan mesin turbocharged yang menghasilkan tenaga sekitar 50 persen lebih besar dibanding pendahulunya. Model ini membantu Bentley kembali menonjolkan karakter performanya.

Setelah itu hadir Bentley Turbo R pada 1985 dan berbagai model performa lainnya. Pada awal 1990-an, Continental R muncul sebagai coupe dua pintu dengan orientasi performa yang semakin jelas. Kesuksesan berbagai model tersebut membuat posisi Bentley kembali menguat. Identitas merek pun mulai bergeser dari sekadar versi lain dari Rolls-Royce menjadi merek yang memiliki karakter sendiri: tetap mewah, tetapi jauh lebih menekankan performa.

Perubahan terbesar berikutnya terjadi pada akhir 1990-an. Setelah Vickers menawarkan Rolls-Royce Motor Cars untuk dijual, Volkswagen Group membeli Bentley, pabrik Crewe, serta hak penggunaan nama Rolls-Royce sampai akhir 2002 dalam kesepakatan 1998. Setelah itu, Rolls-Royce dan Bentley kembali berjalan sebagai dua merek terpisah. Volkswagen kemudian melakukan investasi besar di fasilitas Crewe untuk memperkuat Bentley sebagai merek mobil mewah berperforma tinggi.

Hasil dari era baru tersebut terlihat jelas pada Bentley Continental GT yang diluncurkan pada 2003. Inilah salah satu model paling penting dalam sejarah modern Bentley. Continental GT menggunakan mesin 6,0 liter twin-turbo W12 dan menjadi Bentley pertama dengan sistem all-wheel drive. Mobil tersebut membawa kembali gagasan grand tourer berperforma tinggi, tetapi kali ini dipadukan dengan teknologi modern dan kemewahan yang jauh lebih luas.

Continental GT kemudian berkembang menjadi sebuah keluarga model, termasuk Continental GTC, GT Speed, dan Supersports. Pada 2005, Bentley juga memperkenalkan Continental Flying Spur, sedan empat pintu yang mengambil karakter performa Continental GT lalu menggabungkannya dengan kabin belakang yang lebih lapang. Sementara itu, Mulsanne kembali menjadi flagship Bentley pada 2010 dengan tetap mempertahankan mesin V8 6,75 liter.

Menariknya, kebangkitan Bentley di bawah Volkswagen tidak hanya terjadi lewat mobil jalan raya. Pada 2001, Bentley kembali mengikuti Le Mans setelah absen selama lebih dari 70 tahun. Bentley Speed 8 langsung meraih posisi ketiga. Dua tahun kemudian, pada 15 Juni 2003, dua Speed 8 berhasil mengakhiri balapan di posisi pertama dan kedua. Kemenangan tersebut terjadi tepat 79 tahun setelah kemenangan pertama Bentley di Le Mans pada 1924, sekaligus menjadi kemenangan keenam Bentley di ajang tersebut.

Perjalanan Bentley kemudian semakin luas. Pada 2015, Bentley memperkenalkan Bentayga, SUV pertama dalam sejarah merek tersebut. Nama Bentayga berasal dari Roque Bentayga di Gran Canaria, Spanyol. Kehadiran Bentayga menunjukkan bahwa Bentley tidak lagi hanya bermain di dunia coupe dan sedan mewah, tetapi juga masuk ke pasar SUV dengan pendekatan yang tetap mempertahankan fokus pada kemewahan dan performa.

Elektrifikasi kemudian mulai masuk ke perjalanan Bentley. Pada 2018, Bentayga Hybrid menjadi plug-in hybrid pertama Bentley, menggabungkan mesin bensin V6 3,0 liter dengan motor listrik. Langkah tersebut menjadi bagian dari perubahan Bentley menuju teknologi elektrifikasi, sementara model seperti Continental GT dan Flying Spur terus dikembangkan.

Kalau melihat perjalanan Bentley dari 1919 sampai era modern, perubahan merek ini sebenarnya cukup menarik. Bentley bermula dari ambisi W.O. Bentley untuk membuat mobil yang cepat dan tangguh, kemudian membangun reputasi lewat Le Mans, jatuh karena masalah keuangan, berada di bawah Rolls-Royce selama puluhan tahun, kembali menemukan karakter performanya pada 1980-an, lalu memasuki era modern bersama Volkswagen.

Dan mungkin di situlah identitas Bentley yang paling mudah dikenali. Kemewahan Bentley bukan sesuatu yang berdiri sendiri, karena sejak awal merek ini selalu memiliki hubungan erat dengan performa. Dari Bentley 3 Litre dan Speed Six, kemudian Mulsanne Turbo, Continental R, Continental GT, sampai Bentayga, benang merahnya tetap terlihat: membuat mobil yang mewah, tetapi tidak melupakan bahwa nama Bentley lahir dari dunia kecepatan. Pengaruh sejarah tersebut bahkan masih terlihat pada Bentley modern, termasuk tradisi balap, craftsmanship di Crewe, dan coachbuilding Mulliner yang kini menangani mobil-mobil bespoke.

Dengan kata lain, perjalanan Bentley bukan cuma cerita tentang bagaimana sebuah merek Inggris membuat mobil mahal. Ini adalah cerita tentang sebuah nama yang sempat hampir hilang, kemudian berkali-kali menemukan kembali identitasnya. Dari suara mesin di Brooklands dan Le Mans, sampai kabin penuh kayu, kulit, dan teknologi modern, Bentley terus membawa dua dunia tersebut dalam satu nama.