Perbandingan Refresh Rate Layar: Apakah Kita Benar-Benar Butuh 144Hz di Smartphone?

5 dilihat
Kaindra Akhdan A.
Ditulis oleh
Kaindra Akhdan A.
Perbandingan Refresh Rate Layar: Apakah Kita Benar-Benar Butuh 144Hz di Smartphone?

Pernah merasa layar hp kalian kelihatan jauh lebih mulus pas lagi scrolling media sosial atau gonta-ganti aplikasi? Sensasi mulus itu salah satunya dipengaruhi sama yang namanya refresh rate layar. Sekarang, HP dengan layar 90Hz, 120Hz, sampai 144Hz makin sering dipromosikan produsen karena nawarin tampilan visual yang kelihatan makin mengalir.

Tapi pertanyaannya, apakah makin tinggi angkanya makin bikin pengalaman makin oke? Kalau layar 120Hz aja udah terasa nyaman banget buat harian, apakah naik ke 144Hz benar-benar ngasih perbedaan yang terasa? Soalnya, klaim angka di atas kertas belum tentu sebanding sama apa yang bisa dirasakan langsung sama mata kita.

Refresh rate itu frekuensi penyegaran layar dalam satu detik dengan satuan Hertz (Hz). Angka yang nunjukin seberapa sering panel layar memperbarui gambar tiap detiknya. Layar 60Hz bakal memperbarui gambar 60 kali per detik, sedangkan 120Hz bisa sampai 120 kali per detik.

Makin tinggi angkanya, makin banyak kesempatan layar buat ngeplor animasi dan gerakan objek. Hasilnya, usapan jempol, transisi menu, dan animasi UI kelihatan jauh lebih halus. Tapi perlu diingat, refresh rate itu beda sama frame rate atau FPS (frames per second). Refresh rate adalah kemampuan dari panel layarnya, sementara FPS adalah jumlah bingkai gambar yang sanggup dihasilkan sama prosesor atau aplikasi.

Keduanya memang saling berkaitan, tapi layar 144Hz nggak otomatis bikin game kalian jalan di 144 FPS. Jika game hanya menghasilkan 60 FPS, layar 144Hz tidak otomatis menampilkan 144 gambar unik per detik. Game hanya menghasilkan 60 frame baru per detik, sehingga sebagian frame dapat ditampilkan berulang. Dengan demikian, kemampuan refresh rate layar dan jumlah frame yang dihasilkan game tetap merupakan dua hal berbeda.

Komparasi Layar 60Hz, 90Hz, 120Hz, dan 144Hz

  • 60Hz (16,67 ms per penyegaran): Standar lama yang masih sangat cukup buat kebutuhan dasar kayak baca artikel, kirim pesan, buka aplikasi perbankan, atau nonton video.

  • 90Hz (11,11 ms per penyegaran): Pilihan menengah yang manis. Scrolling sosmed terasa lebih smooth dibandingkan 60Hz tanpa harus nguras baterai berlebihan.

  • 120Hz (8,33 ms per penyegaran): Titik seimbang paling pas. Animasi UI dan game yang mendukung tampilan sangat mulus dan responsif.

  • 144Hz (6,94 ms per penyegaran): Penyegaran super cepat, tapi selisih peningkatannya dibanding 120Hz tergolong tipis dan cuma terasa di skenario tertentu.

Layar 60Hz sebenernya nggak jelek, cuma bakal terasa kurang mulus kalau kalianudah terbiasa megang HP dengan refresh rate tinggi. Di sisi lain, lompatan dari 60Hz ke 90Hz atau 120Hz ngasih perbedaan visual yang sangat kentara. Tapi saat melompat dari 120Hz ke 144Hz, beda waktunya cuma sekitar 1,39 milidetik. Bagi banyak pengguna, perbedaan antara 120Hz dan 144Hz cenderung lebih sulit dirasakan saat scrolling atau navigasi biasa dibandingkan perbedaan antara 60Hz dan 120Hz. Namun, tingkat perbedaannya tetap bergantung pada sensitivitas pengguna, kualitas layar, dan aktivitas yang dilakukan.

Dampaknya Buat Gaming dan Konsumsi Baterai

Layar 144Hz sering dipromosikan untuk kebutuhan gaming karena mampu menyegarkan tampilan lebih sering. Dalam game dengan gerakan cepat, refresh rate tinggi dapat membuat gerakan terlihat lebih halus dan membantu mengurangi blur yang dirasakan. Namun, manfaat tersebut juga bergantung pada frame rate game dan waktu respons panel layar.Namun, game tersebut harus mendukung opsi 144 FPS terlebih dahulu.

Selain refresh rate, ada juga touch sampling rate yang perlu diperhatikan, khususnya bagi pemain game kompetitif. Touch sampling rate berkaitan dengan seberapa sering sistem sentuh memeriksa masukan dari jari pengguna, sedangkan refresh rate berkaitan dengan seberapa sering layar memperbarui tampilan. Karena itu, layar 144Hz tidak otomatis membuat setiap sentuhan terasa lebih responsif. Respons sentuhan secara keseluruhan juga dipengaruhi oleh sistem layar sentuh, performa perangkat, dan jeda pemrosesan input hingga hasilnya muncul di layar.

Percuma punya layar 144Hz kalau game yang dimainkan dikunci di 60 FPS atau chipset HP-nya keburu panas lalu mengalami throttling. Dalam banyak kasus, HP 120Hz dengan chipset stabil dan sistem pendingin yang oke jauh lebih nyaman dipakai main game dibanding HP 144Hz yang performanya tidak stabil.

Di sisi daya, penggunaan refresh rate tinggi cenderung meningkatkan konsumsi energi, terutama ketika layar terus beroperasi pada kecepatan penyegaran maksimum. Besarnya pengaruh terhadap baterai berbeda-beda pada setiap smartphone, bergantung pada jenis panel, tingkat kecerahan, aktivitas perangkat, dan pengelolaan daya yang digunakan. Untungnya, banyak vendor menyematkan fitur adaptive refresh rate yang bisa turun otomatis saat layar menampilkan konten statis (seperti foto atau teks) dan naik lagi pas jempol mulai mengusap layar.

Begitu juga untuk urusan nonton video atau film, sebagian besar film masih diproduksi di format 24, 30, atau 60 FPS. Memutar film di layar 144Hz tidak membuat videonya mendadak jadi 144 FPS. Buat menikmati konten multimedia, kualitas panel (OLED/AMOLED), tingkat kecerahan, dan akurasi warna jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar angka Hz.

Kesimpulannya. Apakah kita benar-benar butuh layar 144Hz di smartphone? Jawabannya sebagian besar orang, tidak. Layar 90Hz atau 120Hz yang teroptimasi dengan baik sudah lebih dari cukup untuk memberikan pengalaman visual yang sangat mulus dan nyaman dipakai seharian.

Layar 144Hz lebih cocok dianggap sebagai fitur bonus bagi hardcore gamer yang sering memainkan game kompetitif pendukung FPS tinggi. Daripada cuma tergiur angka 144Hz di lembar spesifikasi, ada baiknya kalian juga mempertimbangkan kualitas panel layar, performa chipset, daya tahan baterai, dan kestabilan sistem secara keseluruhan.