Smartphone Ramah Lingkungan: Bagaimana Pabrikan Memanfaatkan Material Daur Ulang  

23.771 dilihat
Kaindra Akhdan A.
Ditulis oleh
Kaindra Akhdan A.
Smartphone Ramah Lingkungan: Bagaimana Pabrikan Memanfaatkan Material Daur Ulang   

Smartphone telah menjadi perangkat penting untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Namun, di balik desainnya yang ringkas, proses pembuatannya membutuhkan ekstraksi sumber daya, pengolahan, dan pemurnian berbagai material, seperti aluminium, tembaga, emas, kobalt, dan litium. Sementara itu, plastik yang digunakan pada sejumlah komponen umumnya berasal dari bahan baku petrokimia. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Industrial Ecology pada 2021 menunjukkan bahwa, dalam salah satu skenario analisis daur hidup smartphone, material dan komponen menyumbang sekitar 62% dari total jejak karbon, sedangkan proses perakitan menyumbang sekitar 16%. Angka tersebut bukan persentase universal untuk semua smartphone, tetapi menunjukkan besarnya kontribusi material dan proses manufaktur terhadap jejak karbon perangkat.

Untuk mengurangi dampak lingkungan tersebut, sejumlah produsen mulai mengintegrasikan material daur ulang ke dalam rantai pasok mereka. Upaya ini juga berkaitan dengan persoalan limbah elektronik global. Menurut The Global E-waste Monitor 2024, dunia menghasilkan sekitar 62 juta ton limbah elektronik pada 2022. Dari jumlah tersebut, hanya 22,3% berdasarkan berat yang tercatat dikumpulkan dan didaur ulang secara formal dengan cara yang ramah lingkungan. Angka ini mencakup seluruh kategori limbah elektronik, bukan smartphone saja.

Pemetaan Material Daur Ulang pada Perangkat. Pemanfaatan material daur ulang perlu disesuaikan dengan karakteristik dan fungsi teknis setiap komponen. Berikut beberapa jenis material yang dapat dimanfaatkan dalam produksi smartphone.

  • Aluminium: Dapat digunakan pada rangka atau bagian bodi smartphone karena memiliki karakteristik ringan dan kuat. Daur ulang aluminium dapat menghemat hingga sekitar 95% energi dibandingkan produksi aluminium primer dari bahan baku bijih, meskipun hasilnya bergantung pada proses dan metode perhitungan yang digunakan.

  • Plastik: Plastik daur ulang dapat berasal dari limbah pascakonsumsi (post-consumer recycled atau PCR), termasuk produk plastik yang telah digunakan, maupun sumber limbah lain seperti jaring ikan bekas. Setelah dipilah dan diolah, material ini dapat digunakan pada rumah speaker, komponen internal, atau panel penutup belakang, bergantung pada spesifikasi dan rancangan perangkat. Istilah PCR tidak secara khusus berarti plastik yang berasal dari limbah elektronik.

  • Logam baterai: Baterai bekas dapat diproses melalui pembongkaran dan penghancuran terkendali untuk menghasilkan black mass, yaitu campuran serbuk yang mengandung material aktif baterai dan berbagai logam. Melalui proses pemulihan serta pemurnian lebih lanjut, material seperti kobalt, litium, dan nikel dapat diperoleh kembali, bergantung pada komposisi baterai dan teknologi pengolahannya. Material yang telah memenuhi spesifikasi kemudian dapat digunakan kembali dalam rantai produksi baterai baru melalui sistem daur ulang tertutup (closed-loop recycling).

  • Logam dan unsur tanah jarang: Tembaga, emas, timah, tungsten, serta unsur tanah jarang (rare earth elements) dapat dipulihkan dari berbagai komponen elektronik, seperti papan sirkuit cetak (printed circuit board atau PCB), konektor, dan magnet. Beberapa produsen juga memanfaatkan material daur ulang pada komponen haptik atau motor getar, seperti Taptic Engine pada perangkat Apple. Penerapannya bergantung pada jenis material dan komponen yang digunakan.

Penerapan Material Daur Ulang oleh Produsen Smartphone. Sejumlah produsen telah menerapkan penggunaan material daur ulang pada produk komersial mereka, mulai dari rangka hingga baterai dan komponen elektronik.

  • Apple (iPhone 17): Apple menyatakan bahwa iPhone 17 mengandung 30% material daur ulang berdasarkan berat perangkat. Penerapannya meliputi 85% aluminium daur ulang pada selungkup perangkat, 100% kobalt daur ulang dan 95% litium daur ulang pada baterai, serta 100% unsur tanah jarang daur ulang pada seluruh magnet. Apple juga menggunakan material daur ulang pada sejumlah komponen elektronik, termasuk pelapisan emas pada papan sirkuit dan konektor, serta tungsten dan tembaga pada Taptic Engine. Persentase tersebut merujuk pada material yang disebutkan, bukan berarti seluruh bobot komponen terkait berasal dari bahan daur ulang.

  • Samsung (Galaxy S25 Series): Samsung Indonesia melaporkan bahwa Galaxy S25 Series menggunakan sekitar 15% material daur ulang berdasarkan berat perangkat. Pada baterainya, sedikitnya 50% kobalt yang digunakan berasal dari material daur ulang. Samsung juga memanfaatkan material daur ulang pada berbagai komponen eksternal, termasuk rangka aluminium pada model tertentu. Pada generasi berikutnya, Samsung turut melaporkan penggunaan tantalum daur ulang pada kapasitor tertentu di Galaxy S26 Ultra.

  • Google (Pixel 10a): Google menyatakan bahwa Pixel 10a menggunakan sedikitnya 36% material daur ulang berdasarkan berat produk. Rangkanya menggunakan aluminium 100% daur ulang, sedangkan penutup belakangnya mengandung sedikitnya 81% plastik daur ulang. Google juga mencantumkan penggunaan material daur ulang berupa kobalt, tembaga, emas, dan tungsten, termasuk 100% kobalt daur ulang pada sel baterainya serta tembaga dan emas daur ulang pada papan logika utama.

Persentase tersebut merupakan klaim resmi produsen untuk model tertentu. Karena cakupan dan komposisi materialnya berbeda, angka-angka tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk menentukan smartphone mana yang paling ramah lingkungan secara keseluruhan.

Tantangan Teknis dan Realitas Keberlanjutan. Meskipun penggunaan material daur ulang terus berkembang, industri smartphone masih menghadapi beberapa tantangan.

1. Konsistensi kualitas: Komponen berpresisi tinggi membutuhkan material dengan spesifikasi yang ketat. Kontaminasi atau perubahan komposisi pada plastik dan logam daur ulang dapat memengaruhi sifat mekanis, ketahanan panas, serta konsistensi kualitas komponen. Karena itu, material yang dipulihkan tetap harus melalui pengujian sebelum digunakan kembali.

2. Rantai pasok dan pengumpulan: Tidak semua smartphone bekas masuk ke saluran pengumpulan dan daur ulang formal. Akibatnya, pasokan material sekunder yang berkualitas dan tersedia secara konsisten masih menjadi salah satu tantangan bagi produsen yang ingin meningkatkan penggunaannya.

3. Kerumitan desain: Penggunaan perekat yang kuat, komponen berlapis, dan struktur yang saling terintegrasi dapat menyulitkan proses pembongkaran (disassembly) serta pemisahan material pada akhir masa pakai. Desain yang lebih mudah dibongkar dapat membantu proses perbaikan dan pemulihan material.

Penggunaan material daur ulang hanyalah salah satu aspek dari keberlanjutan smartphone. Sebuah perangkat tidak otomatis lebih ramah lingkungan hanya karena mengandung banyak bahan daur ulang, terutama jika perangkat tersebut cepat rusak atau sulit diperbaiki.

Regulasi Ekodesain Uni Eropa untuk smartphone, yaitu Commission Regulation (EU) 2023/1670, yang mulai diterapkan pada 20 Juni 2025, mencakup persyaratan terkait efisiensi sumber daya, ketersediaan suku cadang, perbaikan, ketahanan baterai, dan pembaruan sistem operasi. Regulasi ini menunjukkan bahwa keberlanjutan perangkat elektronik tidak hanya ditentukan oleh bahan pembuatannya, tetapi juga oleh ketahanan dan kemampuannya untuk tetap digunakan dalam jangka panjang.

Tags: